Friday, October 9, 2015

HERADATUL H. : WAHAM


HERADATUL H. : PERILAKU KEKERASAN



LAPORAN PENDAHULUAN
ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN
DENGAN GANGGUAN PERILAKU KEKERASAN

A.    Diagnosa Keperawatan
Resiko Perilaku Kekerasan (RPK)
B.     Proses terjadinya masalah
a.    Pengertian
             Perilaku kekerasan  adalah suatu keadaan dimana seseorang melakukan tindakan yang dapat membahayakan secara fisik, baik pada dirinya sendiri maupun orang lain, disertai dengan amuk dan gaduh gelisah yang tak terkontrol.(Kusumawati & Hartono, 2010).
             Perilaku kekerasan atau agresif merupakan suatu bentuk perilaku yang bertujuan untuk melukai orang lain secara fisik maupun psikologis (Berkowitz, dalamHarnawati, 1993).
b.   Rentang Respon
 


     Adaptif                                                                                 Maladaptif
 


         Asertif         frustasi               pasif            Agresif           Kekerasan

Keterangan:
1)      Asertif
Individu dapat mengungkapkan marah tanpa menyalahkan orang lain dan memberikan ketenangan.
2)      Frustasi
Individu gagal mencapai tujuan kepuasan saat marah dan tidak dapat menemukan alternatif.
3)      Pasif
Individu tidak dapat mengungkapkan perasaannya.
4)      Agresif
Perilaku yang menyertai marah, terdapat dorongan untuk menuntut tetapi masih terkontrol.
5)      Kekerasansaan marah
Perasaan marah dan bermusuhan yang kuat serta hilangnya kontrol.


c.    Faktor Predisposisi dan Presipitasi
Ø Faktor Predisposisi
1.    Faktor Psikologis
a.    Seseoarng untuk mencapai tujuan mengalami hambatan sehinnga timbul doronagn agresif yang memotivasi PK
b.    Mekanisme koping individu dan masa kecil yang tidak menyenangkan
c.    Rasa frustasi
d.   Adanya kekerasan dalam rumah tangga
e.    Psikoanalitik teori
f.     Teori pembelajaran
2.    Faktor Sosial Budaya
Kontrol masyarakat yang rendah dan kecenderungan menerima perilaku kekerasan sebagai cara penyelesaian masalah dalam masyarakat merupakan faktor predisposisi terjadinya PK.
3.    Faktor Biologis
Bedasarkan teori Biologik, ada bebebrapa hal yang dapat mempengaruhi seseorang dapat melakukan perilaku kekerasan, yaitu:
a.    Pengaruh Neurofisiologik
b.    Pengaruh Biokimia
c.    Pengaruhh Genetik
d.   Gangguan Otak
Ø Faktor Presipitasi
1.    Klien: Kelemahan fisik, keputusan, ketidakberdayaan, kehidupan yang penuh dengan Agresif dan masa lalu yang tidak menyenagkan.
2.    Interaksi: Penghinaan, kekerasan, kehilangan orang yang berarti, konflik, merasa terancam baik internal dari permasalahn dari klien sendiri maupun eksternal dari lingkungan.
3.    Lingkungan: Panas, padan dan bising.
d.   Mekanisme Koping
·      Denial, mekanisme pertahanan ini cenderung meningkatkan marah sesorang karena sering digunakan untuk mempertahankan harga diri akibat ketidak mampuannya.
·      Sublimasi, adalah dengan mengalihkan rasa marah pada aktifitas lain.
·      Proyeksi, juga cenderung meningkatkan ekspresi marah karena individu berusaha mengekspresikan kemarahannya atau memodifikasi perilakunya trhadap benda/ orang tanpa dihalangi.
·      Formasi, perilaku pasif agresif karena perasaannya tidak dikeluarkan akibat ketidakmampuannya mengekspresikan kemarahannya atau memodifikasi perilakunya.
·      Represi, merupakan mekanisme pertahanan yang dapat menimbulkan permusuhan yang tidak disadari sehingga individu bersifat eksploitatif, manipulatif & ekspresi lainnya yang mudah berubah.
e.    Pohon masalah
Effects
                                               Resti Mencederai orang lain        
 

                                                                                                         
Core Problem
                                                      Perilaku Kekerasan            

Causa
                                         Gangguan harga diri rendah kronis                  

C.    Diagnosa Keperawatan yang Muncul (Perlu Dikaji)
No
Diagnosa Keperawatan
Deskripsi
Data Mayor
Data Minor
1.
Perilaku Kekerasan
Kemarahan yang diekspresikan secara berlebihan dan tidak terkendali baik secara verbal maupun tindakan dengan mencederai orang lain dan atau merusak lingkungan
Subyektif:
·    Mengancam
·    Mengumpat
·    Bicara keras dan kasar

Obyektif:
·    Agitasi
·    Meninju
·    Membanting
·    Melempar
Subyektif:
·      Mengatakan ada yang mengejek, mengancam
·      Mendengan suara yang menjelekkan
·      Merasa orang lain mengancam dirinya

Obyektif:
·      Menjauh dari orang lain
·      katatonia
2
Resiko Perilaku Kekerasan
Adanya kemungkinan mencederai orang lain dan merusak lingkungan akibat ketidakmampuan mengendalikan marah secara konstruktif
Subyektif:
·      mengatakan pernah melakukan tindak kekerasan
·      informasi dari keluarga tindak kekerasan yang dilakukan oleh pasien

obyektif:
·      ada tanda/jejak perilaku kekerasan pada anggota tubuh
Subyektif:
·         mendengar suara-suara
·         merasa orang lain mengancam
·         menganggap orang lain jahat

obyektif:
·         tampak tegang saat bercerita
·         pembicaraan kasar jika menceritakan marahnya

D.    Diagnosa Keperawatan
Resiko Perilaku Kekerasan

HERADATUL H. : ISOLASI SOSIAL



LAPORAN PENDAHULUAN
ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN
DENGAN ISOLASI SOSIAL
1.      Diagnosa Keperawatan
Isolasi sosial
2.      Proses terjadinya masalah
a.    Pengertian
             Kerusakan interaksi sosial adalah suatu gangguan kepribadian yang tidak fleksibel, tingkah maladaptif, dan memnggangu fungsi individu dalam hubungan sosialnya. (Stuart dan sundeen, 1998).
             Isolasi soaial merupakan upaya klien untuk menghindari interaksi dengan orang lain, menghindari hubungan dengan orang lain maupun komunikasi dengan orang lain. (Keliat, 1998).

b.   Rentang Respon

     Adaptif                                                                                  Maladaptif

-          Menyendiri
-          Otonomi
-          Bekerjasama
-          interdependen
-          Manipulatif
-          Impulsif
-          narcissism
-          Merasa sendiri
-          Menarik diri
-          dependen
 














c.    Faktor Predisposisi dan Presipitasi
1.    Faktor Predisposisi
·      Faktor pengembang
Pada setiap tahapan tubuh kembang indivodu ada tugas perkembangan yang harus dipenuhi agar tidak terjadi gangguan dalam hubungan sosial.
·      Faktor Komunikasi dalam Keluarga
Gangguan komunikasi hingga menimbulkan (Double bind) yaitu suatu keadaan dimana seseorang anggota keluarga menerima pesan yang saling bertentangan yang memhambat untuk berhubungan dengan lingkungan dan keluarga.
·      Faktor Sosial budaya
Adanya norma-norma yang salah dianut oleh keluarga, dimana setiap anggota keluarga gyang tidak produktif seperti usia lanjut, berpenyakit kronis, dan penyandang cacat diasingkat dan lingkungan sosialnya.
·      Faktor biologis
Organ tubuh yang dapat mempengaruhi terjadinya gangguan hubungan sosial adalah otak.
2.    Faktor Presipitasi
·      Faktor eksternal: stressor sosial budaya, yaitu stress yang ditimbulkan oleh faktor sosial budaya seperti keluarga.
·      Faktor internal: stressor psikologis, yaitu stress terjadi akibat ansietas atau kecemasan yang berkepanjangan dan terjadi bersamaan dengan keterbatasan kemampuan individu untuk berpisah dengan orang terdekat atau tidak terpenuhinya kebutuhan individu.

d.   Mekanisme Koping
Mekanisme koping digunakan klien sebagai usaha mengatasi kecemasan yang merupakan suatu kesepian nyata yang mengancam dirinya. Kecemasan koping yang sering digunakan adalah Regrasi, Represi, dan Isolasi. Sedangkan contoh sumber koping yang dapat digunakan misalnya keterlibatan dalam hubungan yang luas dalam keluarga dan teman, hubungan dengan hewan peliharaan, menggunakan keriatifitas untuk mengekspresikan stress interpersonal seperti kesenian musik atau tulisan (Stuart and sundeen, 1999).

e.    Pohon Masalah
Risti mencederai diri,orang lain dan
lingkungan
Effects
 
GPS: Halusinasi
Core Problem
 
Isolasi Sosial
 

Causa
HDR
 

Koping keluarga tidak efektif



3.      Masalah/ Diagnosa Keperawatanyang Muncul (Perlu Dikaji)
No
Diagnosa Keperawatan
Deskripsi
Data Mayor
Data Minor
1
Isolasi Sosial
Ketidakmampuan untuk membina hubungan yang intim, hangat, terbuka, dan interdependen dengan orang lain.
Subyektif:
·       Mengatakan malas berinteraksi
·       Mengatakan orang lain tidak mau menerima dirinya
·       Merasa orang lain tidak selevel

Obyektif:
·       Menyendiri
·       Mengurung diri
·       Tidak mau bercakap-cakap dengan orang lain
Subyektif:
·       Curiga dengan orang lain
·       Mendengar suara-suara/melihat bayangan
·       Merasa tak berguna

Obyektif:
·       Mematung
·       Mondar-mandir tanpa arah
·       Tidak berinisiatif berhubungan dengan orang lain

4.      Diagnosa Keperawatan
Isolasi Sosial