Friday, October 9, 2015

HERADATUL HASANAH : ADDISON SINDROM




MAKALAH TENTANG ADDISON SINDROME












Makalah ini Disusun Untuk Memenuhi Tugas
Mata Kuliah KMB I ASKEP SISTEM ENDOKRIN
Dosen pembimbing : Damon Wicaksi, SST, M.Kes
KELOMPOK 5
Oleh :
Heradatul Hasanah
Kikidatus Sa’adah
Avis Dwi Priyatna


PRODI DIII KEPERAWATAN
U N I V E R S I T A S B O N D O W O S O
2015

KATA PENGANTAR
Segala puji bagi Allah YME karena dengan rahmat dan hidayahnyalah kita semua dalam keadaan sehat walafiat,sholawat serta salam selalu tercurah limpahkan kepada nabi besar Muhammad SAW,karena beliaulah yang membawa kita dari jaman kegelapan menuju jaman terang benderang seperti yang saat ini kita rasakan.
Ucapan terimakasih juga penulis ucapkan kepada :
1.      Yuana Dwi Agustin, S.KM, M.Kes selaku kepala prodi DIII keperawatan Universitas Bondowoso
2.      Damon Wicaksi, SST, M.Kes selaku dosen pembimbing
3.      Dan semua pihak yang membantu dalam penyusunan makalah ini
penulis sadar bahwa makalah yang kami susun ini masih banyak kesalahan dan kekurangan oleh karna itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun agar penulis dapat menjadi lebih baik



Bondowoso,21Mei 2015

                                                           
   Penulis 










DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL...................................................................................... x
DAFTAR ISI.................................................................................................. 1
KATA PENGANTAR................................................................................... 2
BAB I PENDAHULUAN
1.1  Latar belakang............................................................................................ 3
1.2  Rumusan masalah....................................................................................... 4   
1.3  Tujuan......................................................................................................... 4
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Anatomi fisiologi ....................................................................................... 5
22 Definisi Addison......................................................................................... 8
2.3 Klasifikasi................................................................................................... 9
2.4 Etiologi ...................................................................................................... 10
2.5 Patolagi ...................................................................................................... 11
2.6 Manifestasi Klinis..................................................................................... ... 12
2.7 Pemeriksaan Penunjang.............................................................................. 12
28 Penatalaksaan Medis................................................................................... 13
2.9 diagnosa keperawatan................................................................................ 14
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan................................................................................................. 15
3.2 Saran........................................................................................................... 15
BAB I
PENDAHULUAN
1.1  LATAR BELAKANG
Penyakit yang pertama kali ditemukan oleh Addison tahun 1885 ini disebabkan oleh kerusakan jaringan adrenal.Penyakit ini biasanya bersifat autoimun dan autoantibodi adrenal dalam plasma ditemukan pada 75-80% pasien.Penyakit Addison sangat jarang ditemukan.Dari hasil penelitian di Inggris didapatkan hasil dari satu juta orang hanya terjadi 8 kasus saja.Kebanyakan kasus terjadi antara umur 20 sampai 50 tahun, tetapi dapat pula terjadi pada semua umur. Penyakit ini dapat muncul pertama kali sebagai krisis addison dengan demam, nyeri abdomen, kolaps hipotensi, serta pigmentasi kulit dan membran mukosa akibat konsentrasi ACTH yang sangat tinggi dalam sirkulasi.
Area yang sering terkena dini adalah kulit bantalan kuku, jaringan parut dan mukosa bukal.Adanya autoantibodi adrenal merupakan indikator diagnostik yang berguna.Dapat terjadi hiperkalemia, hiponatremia, hipoglikemia dan Na+ urin yang tinggi. Sekitar 50% pasien dengan penyakit addison autoimun memiliki antibodi tiroid yang positif dan feomena endokrin autoimun lainnya.
 Di negara barat, penyakit autoimun merupakan penyebab sebagian besar insufisiensi adrenal, walaupun di seluruh dunia tuberkulosis, yang menyebabkan infeksi dan selanjutnya fibrosis kelenjar adrenal, tetapi merupakan diagnosis yang sering.





1.2  RUMUSAN MASALAH
1. Bagaimana anatomi dan fisiologi dari kelenjar adrenal ?
2. Apa definisi dari penyakit addison ?
3. Apa klasifikasi dari penyakit addison ?
4. Apa etiologi dari penyakit addison ?
5.  Apa patofisiologi dari penyakit addison ?
6.  Apa manifestasi klinis dari penyakit addison ?
7.  Bagaimana pemeriksaan penunjang dari penyakit addison  ?
8. Bagaimana penetalaksanaan medis dari penyakit Addison

1.3  TUJUAN
1. Memahami anatomi dan fisiologi dari kelenjar adrenal
2. Mengetahui definisi dari penyakit addison
3. Mengetahui klasifikasi dari penyakit addison
4. Mengetahui etiologi dari penyakit addison
5.  Mengetahui patofisiologi dari penyakit addison
6.  Mengetahui manifestasi klinis dari penyakit addison
7.  Mengetahui pemeriksaan penunjang dari penyakit addison  
8. Mengetahui penetalaksanaan medis dari penyakit addison




BAB II
PEMBAHASAN
          2.1       Anatomi Fisiologi
Kelenjar adrenal adalah sepasang organ yang terletak dekat kutub atas ginjal, terbenam dalam jaringan lemak.Kelenjar ini ada 2 buah, berwarna kekuningan serta berada di luar (ekstra) peritoneal. Bagian yang sebelah kanan berbentuk pyramid dan membentuk topi (melekat) pada kutub atas ginjal kanan. Sedangkan yang sebelah kiri berbentuk seperti bulan sabit, menempel pada bagian tengah ginjal mulai dari kutub atas sampai daerah hilus ginjal kiri.
Kelenjar adrenal pada manusia panjangnya 4-6 cm, lebar 1-2 cm, dan tebal 4-6 mm. Kelenjar adrenal mempunyai berat lebih kurang 8 gr, tetapi berat dan ukurannya bervariasi bergantung umur dan keadaan fisiologi perorangan. Kelenjar ini dikelilingi oleh jaringan ikat padat kolagen yang mengandung jaringan lemak.Selain itu masing-masing kelenjar ini dibungkus oleh kapsul jaringan ikat yang cukup tebal dan membentuk sekat/septa ke dalam kelenjar.
Kelenjar adrenal disuplai oleh sejumlah arteri yang masuk pada beberapa tempat di sekitar bagian tepinya. Ketiga kelompok utama arteri adalah arteri suprarenalis superior, berasal dari arteri frenika inferior; arteri suprarenalis media, berasal dari aorta ; dan arteri suprarenalis inferior, berasal dari arteri renalis.
Berbagai cabang arteri membentuk pleksus subkapsularis yang mencabangkan tiga kelompok pembuluh: arteri dari simpai; arteri dari kortex, yang banyak bercabang membentuk jalinan kapiler diantara sel-sel parenkim (kapiler ini mengalir ke dalam kapiler medulla); dan arteri dari medulla, yang melintasi kortex sebelum pecah membentuk bagian dari jalinan kapiler luas dari medulla. Suplai vaskuler ganda ini memberikan medulla dengan darah arteri (melalui arteri medularis) dan darah vena (melalui arteri kortikalis)

.Endotel kapiler ini sangat tipis dan diselingi lubang-lubang kecil yang ditutupi diafragma tipis.Di bawah endotel terdapat lamina basal utuh.Kapiler dari medulla bersama dengan kapiler yang mensuplai kortex membentuk vena medularis, yang bergabung membentuk vena adrenal atau suprarenalis.
Fungsi kelenjar suprarenalis terdiri dari:
1.        Mengatur keseimbangan air, elektrolit dan garam-garam
2.        Mengatur atau mempengaruhi metabolisme lemak, hidrat arang dan protein
3.        Mempengaruhi aktifitas jaringan limfoid
Kelenjar suprarenalis ini terbagi atas 2 bagian, yaitu :
1.      Medula Adrenal
Medula adrenal berfungsi sebagai bagian dari system saraf otonom. Stimulasi serabut saraf simpatik pra ganglion yang berjalan langsung ke dalam sel-sel pada medulla adrenal akan menyebabkan pelepasan hormon katekolamin yaitu epinephrine dan norepinephrine. Katekolamin mengatur lintasan metabolic untuk meningkatkan katabolisme bahan bakar yang tersimpan sehingga kebutuhan kalori dari sumber-sumber endogen terpenuhi.Efek utama pelepasan epinephrine terlihat ketika seseorang dalam persiapan untuk memenuhi suatu tantangan (respon Fight or Fligh). Katekolamin juga menyebabkan pelepasan asam-asam lemak bebas, meningkatkan kecepatan metabolic basal (BMR) dan menaikkan kadar glukosa darah.
2.      Korteks Adrenal
Korteks adrenal tersusun dari zona yaitu zona glomerulosa, zona fasikulata dan zona retikularis.


Korteks adrenal menghasilkan hormon steroid yang terdiri dari 3 kelompok hormon:
a)      Glukokortikoid.
Hormon ini memiliki pengaruh yang penting terhadap metabolisme glukosa; peningkatan hidrokortison akan meningkatan kadar glukosa darah. Glukokortikoid disekresikan dari korteks adrenal sebagai reaksi terhadap pelepasan ACTH dari lobus anterior hipofisis. Penurunan sekresi ACTH akan mengurangi pelepasan glukokortikoid dari korteks adrenal. Glukokortikoid sering digunakan untuk menghambat respon inflamasi pada cedera jaringan dan menekan manifestasi alergi.
Efek samping glukokortikoid mencakup kemungkinan timbulnya diabetes militus, osteoporosis, ulkus peptikum, peningkatan pemecahan protein yang mengakibatkan atrofi otot serta kesembuhan luka yang buruk dan redistribusi lemak tubuh.Dalam keadaan berlebih glukokortikoid merupakan katabolisme protein, memecah protein menjadi karbohidrat dan menyebabkan keseimbangan nitrogen negatif.
b)      Mineralokortikoid
Mineralokortikoid pada dasarnya bekerja pada tubulus renal dan epitelgastro intestinal untuk meningkatkan absorpsi ion natrium dalam proses pertukaran untuk mengeksresikan ion kalium atau hydrogen. Sekresi aldesteron hanya sedikit dipengaruhi ACTH.Hormon ini terutama disekresikan sebagai respon terhadap adanya angiotensin II dalam aliran darah. Kenaikan kadar aldesteron menyebabkan peningkatan reabsorpsi natrium oleh ginjal dan traktus gastro intestinal yang cenderung memulihkan tekanan darah untuk kembali normal. 

Pelepasan aldesteron juga ditingkatkan oleh hiperglikemia. Aldesteron merupakan hormon primer untuk mengatur keseimbangan natrium jangka panjang.
c.       Hormon-hormon seks Adrenal (Androgen)
Androgen dihasilkan oleh korteks adrenal, serta sekresinya didalam glandula adrenalis dirangsang ACTH, mungkin dengan sinergisme gonadotropin.Kelompok hormon androgen ini memberikan efek yang serupa dengan efek hormon seks pria.Kelenjar adrenal dapat pula mensekresikan sejumlah kecil estrogen atau hormon seks wanita.Sekresi androgen adrenal dikendalikan oleh ACTH.Apabila disekresikan secara berlebihan, maskulinisasi dapat terjadi seperti terlihat pada kelainan bawaan defisiensi enzim tertentu.Keadaan ini disebut Sindrom Adreno Genital.
2.2         Definisi Addison
Penyakit Addison adalah suatu kelainan endokrin atau hormon yang terjadi pada semua kelompok umur dan menimpa pria dan wanita sama rata. Penyakit ini di karakteristikan oleh kehilangan berat badan, kelemahan otot, kelelahan, tekanan darah rendah dan adakalanya penggelapan kulit pada kedua bagian-bagian tubuh yang terbuka dan tidak terbuka.
Penyakit Addison adalah penyakit yang terjadi akibat fungsi korteks tidak adekuat untuk memenuhi kebutuhan pasien akan hormon – hormon korteks adrenal (Soediman, 1996).
Penyakit Addison adalah lesi kelenjar primer karena penyakit destruktif atau atrofik, biasanya auto imun atau tuberkulosa. (Baroon, 1994).


Penyakit Addison terjadi bila fungsi korteks adrenal tidak adekuat untuk memenuhi kebutuhan pasien akan kebutuhan hormon – hormon korteks adrenal. (Bruner, dan Suddart Edisi 8 hal 1325).
Penyakit Addison ialah kondisi yang terjadi sebagai hasil dari kerusakan pada kelenjar adrenal (Black, 1997).Penyakit Addison (juga dikenal sebagai kekurangan adrenalin kronik, hipokortisolisme atau hipokortisisme) adalah penyakit endokrin langka dimana kelenjar adrenalin memproduksi hormon steroid yang tidak cukup.
Penyakit Addison juga dikenal sebagai kekurangan adrenal kronik, atau hipokortisolism (hypocortisolism) adalah masalah endokrine . Diperkirakan  sekitar 1 hingga 5 setiap 100,000 orang. Ia berlaku apabila kelenjar adrenal, terletak di atas buah pinggang, gagal menghasilkan hormon kortisol mencukupi dan kadang kala , hormon aldosterone.
Addison Disease (AD) terjadi bila fungsi korteks adrenal tidak adekuat untuk memenuhi kebutuhan pasien akan hormon korteks adrenal. Penyebab terbanyak (75%) atrofi otoimun dan idiopatik, penyebab lain: operasi dua keelenjar adrenal atau infeksi kelenjar adrenal, TB kelenjar adrenal, sekresi ACTH tidak adekuat. Penghentian mendadak terapi hormon adrenokortika akan menekan respon normal tubuh terhadap stress dan menggangu mekanisme umpan balik normal. Terapi kortikosteroid selama dua sampai empat minggu dapat menekan fungsi korteks adrenal.






2.3 Klasifikasi Addison
Penyakit Addison datang dalam tiga bentuk: primer, sekunder danatipikal. bentuk sekunder dan atipikal cenderung sangat dekat di alam, sehingga mereka         berbagi pengobatan umum
a. Gejala umum Penyakit Addison's Canine
Seekor anjing dengan penyakit Addison umumnya tidak lebih dari lima tahun. gejala Original meliputi kelesuan, muntah dan diare. Akhirnya, perubahan kimia darah anjing dan kadar gula drop menyebabkan hewan runtuh. anjing yang tidak diobati dapat mengembangkan aritmia jantung.
b. Addison's Disease Primer
Dengan's Addison penyakit utama,'s adrenal kelenjar anjing gagal menghasilkan cukup dari kedua hormon. Penelitian membuktikan penyakit ini dimulai setelah sistem kekebalan tubuh menyerang jaringan kelenjar adrenal ini. Jika anjing anda memiliki bentuk utama penyakit Addison, dokter hewan Anda akan resep baik Florinef atau Percoten-V
c. Addison sekunder dan Atypical's Disease
Bentuk sekunder dan atipikal penyakit Addison anjing's menemukan kelenjar adrenal anjing menghasilkan tingkat memadai alsteron, tetapi tidak cukup kortisol.Biasanya, bentuk-bentuk terjadi akibat kerusakan kelenjar pituitari.Anjing didiagnosis dengan bentuk sekunder atau atipikal mengelola penyakit mereka dengan resep dosis rendah untuk glukokortikoid.





2.4 Etiologi
Etiologi dari penyakit Addison antara lain (Ilmu Penyakit Dalam I edisi 3, 1996 ) :
1.  Autoimmune ( Idiopatik )
Penyakit Addison karena proses autoimun didapatkan pada 75% dari penderita. Secara histologik tidak didapatkan 3 lapisan korteks adrenal, tampak bercak-bercak fibrosis dan infiltrasi limfosit korteks adrenal . Pada serum penderita didapatkan antibodi adrenal yang dapat diperiksa dengan cara Coons test,ANA test, serta terdapat peningkatan imunoglobulin G.
2. Pengangkatan kelenjar adrenal.
3.  Infeksi pada kelenjar adrenal.
4.  Tuberkulosis.
Kerusakan kelenjar Adrenal akibat tuberkulosis didapatkan pada 21% dari penderita. Tampak daerah nekrosis yang dikelilingi oleh jaringan ikat dengan serbukan sel-sel limfosit, kadang kadang dapat dijumpai tuberkel serta kalsifikasi Seringkali didapatkan proses tuberkulosis yang aktif pada organ-organ lain, misalnya tuberkulosis paru, tuberkulosis genito-urinari, tuberkulosis vertebrata (Pott s disease), hati, limpa serta kelenjar limpa.
5.  Isufiensi ACTH Hipofise



2.5   Patofisiologi
Penyakit addison atau insufiensi adrenokortikal, terjadi bila fungsi korteks adrenal tidak adekuat untuk memenuhi kebutuhan pasien akan hormon-hormon korteks adrenal. Atrofi autoimun atau idiopatik pada kelenjar adrenal merupakan penyebab pada 75%  kasus penyakit addison ( Stern & Tuck, 1994 ).
Penyebab lainnya mencakup operasi peningkatan kelenjar adrenal atau infeksi yang paling sering di temukan dan menyebabkan kerusakan pada kedua kelenjar tersebut.Tuberkulosis (TB) dan histoplasmosis merupakan infeksi yang paling sering ditemukan dan menyebabkan kerusakan pada kedua kelenjar adrenal.
 Meskipun kerusakan adrenal akibat proses autoimun telah menggantikan tuberkulosis sebagai pentebab penyakit addison, namun penigkatan tuberkulosis yang terjadi akhir-akhir ini harus mempertimbangkan pencantuman penyakit infeksi kedalam daftar diagnosis. Sekresi ACTH ynag tidak adekuat dari kelenjar hipofisis juga akan menimbulkan insufisiensi adrenal akibat penurunan stimulasi korteks adrenal.
Kerusakan pada korteks adrenal mempengaruhi insufisiensi kortisol yang menyebabkan hilangnya glukoneogenesis, glikogen hati menurun yang mengakibatkan hipoglikemia, insufisiensi kortisol mengakibatkan ACTH dan  sehingga merangsang sekresi melanin meningkat sehingga timbulMSH  hiperpigmentasi.
 Defisiensi aldosteron dimanifestasikan dengan peningkatan kehilangan natrium melalui ginjal dan peningkatan reabsorpsi kalium oleh ginjal kekurangan garam dapat dikaitkan dengan kekurangan air dan volume. Penurunan volume plasma yang bersirkulasi akan dikaitkan dengan kekurangan air dan volume mengakibatkan hipotensi.


2.6    Manifestasi Klinis
1)      Gejala awal : kelemahan, fatique, anoreksia, nausea, muntah, BB menurun, hipotensi, dan hipoglikemi.
2)      Astenia (gejala cardinal) : pasien kelemahan yang berlebih.
3)      Hiperpigmentasi : menghitam seperti perunggu, coklat seperti terkena sinar matahari, biasanya pada kulit buku jari, lutut, siku.
4)      Rambut pubis dan aksilaris berkurang pada perempuan.
5)      Hipotensi arterial (TD : 80/50 mmHg/kurang).
6)      Abnormalitas fungsi gastrointestinal.
7)      Pusing
8)      Keringat dingin
9)      Gemeter
10)  Penurunan kesadaran
11)  Dehidrasi
12)  Cemas

2.7  Pemeriksaan Penunjang
1.      Pemeriksaan darah menunjukkan adanya kekurangan kortikosteroid (terutama kortisol), kadar natrium yang rendah dan kadar kalium yang rendah.
2.      Penilaian fungsi ginjal (misalnya pemeriksaan darah untuk nitrogen dan kreatinin), biasanya menunjukkan bahwa ginjal tidak bekerja dengan baik.
3.      Rontgen
4.      CT Scan : menunjukkan adanya pengapuran pada kelenjar adrenal.
5.      EKG


6.      Tes stimulating ACTH : kortisol darah dan urin diukur sebelum dan setelah suatu bentuk sintetik dari ACTH diberikan dengan suntikan. Pada tes ACTH yang disebut pendekcepat. Penyukuran cortisol dalam darah di ulang 30 sampai 60 menit setelah suatu suntikan ACTH adalah suatu kenaikan tingkatan – tingkatan cortisol dalam darah dan urin.
7.      Tes Stimulating CRH : ketika respon pada tes pendek ACTH adalah abnormal, suatu tes stimulasi CRH “Panjang” diperlukan untuk menentukan penyebab dari ketidak cukupan adrenal. Pada tes ini, CRH sintetik di suntikkan secara intravena dan cortisol darah diukur sebelum dan 30, 60 ,90 dan 120 menit setelah suntikan. Pasien – pasien dengan ketidak cukupan adrenal seunder memp.Respon kekurangan cortisol namun tidak hadir / penundaan respon – respon ACTH. Ketidakhadiran respon – respon ACTH menunjuk pada pituitary sebagai penyebab ; suatu penundaan respon ACTH menunjukan pada hypothalamus sebagai penyebab.
2.8   Penatalaksanaan
Pengobatan di arahkan untuk mengatasi syok :
1.      Apapun penyebabnya, penyakit Addison bisa berakibat fatal dan harus diobati dengan kortikosteroid.
2.      Biasanya pengobatan bisa dimulai dengan pemberian prednison per-oral (ditelan). Jika sakitnya sangat berat, pada awalnya diberikan kortisol intravena kemudian dilanjutkan dengan tablet prednison.
3.      Sebagian besar penderita juga harus mengkonsumsi 1-2 tablet fludrokortison/hari untuk membantu mengembalikan ekskresi natrium dan kalium yang normal.
4.      Pada akhirnya pemberian fludrokortison bisa dikurangi atau dihentikan, diganti dengan prednison yang diberikan setiap hari sepanjang hidup penderita.
5.      Jika tubuh mengalami stres (terutama karena penyakit), mungkin diperlukan dosis prednison yang lebih tinggi.
6.      Pengobatan harus terus dilakukan sepanjang hidup penderita, tetapi prognosisnya baik.
Literatur lain mengatakan :
1.      Terapi dengan pemberian kortikostiroid setiap hari selama 2 sampai 4 minggu dosis 12,5 – 50 mg/hr
2.      Hidrkortison (solu – cortef) disuntikan secara IV
3.      Prednison (7,5 mg/hr) dalam dosis terbagi diberikan untuk terapi pengganti kortisol
4.      Pemberian infus dekstrose 5% dalam larutan saline
5.      Fludrukortison : 0,05 – 0,1 mg/hr diberikan per oral

2.9 Diagnosa Keperawatan
1.      Kekurangan volume cairan berhubngan dengan kelebihan natrium dan kehilangan cairan melalui ginjal
2.      Nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan mual/muntah
3.      Kelelahan berhubungan dengan penurunan produksi energi metabolisme, perubahan kimia tubuh, ketidakseimbangan cairan elektrolit, dan glukosa
4.      Resiko tinggi terhadap penurunan curah jantung berhubungan dengan menurunnya lairan darah vena dan berubahnya kecepatan, irama dan konduksi jantung



BAB III
PENUTUP
3.1 kesimpulan
Penyakit Addison terjadi bila fungsi korteks adrenal tidak adekuat untuk memenuhi kebutuhan pasien akan kebutuhan hormon – hormon korteks adrenal. Penyebab  dari penyakit addison adalah Tuberculosis diantaranya adalahHistoplasmosis (penyakit infeksi yang disebabkan oleh jamurhistoplasma capsulatum, Koksidiodomikosis, Kriptokokissie, Pengangkatan kedua kelenjar adrenal, Kanker metastatik, Adrenalitis auto imun.  
Tanda dan gejala yang timbul dalam penyakit addison ini adalah kelemahan, fatique, anoreksia, nausea, muntah, BB menurun, hipotensi, dan hipoglikemi. Untuk dapatmengetahui seseorang menderita penyakit Addison yaitu dengan. Pemeriksaan Laboratorium Darah,  Pemeriksaan radiografi abdominal menunjukan adanya klasifikasi di adrenal, CT Scan, Gambaran EKG, Tes stimulating ACTH,  Tes Stimulating CRH. 
 Penatalaksanaan penyakit adiison yang  pertama adalah terapi dengan pemberian kortikostiroid setiap hari, pemberian Prednison,  Hidrkortison, Pemberian infus dekstrose 5% dalam larutan saline,  Fludrukortison
3.2 Saran
Penulis menyadari masih banyak terdapat kekurangan pada makalah ini. Oleh karena itu, penulis mengharapkan sekali kritik yang membangun bagi makalah ini, agar penulis dapat berbuat lebih baik lagi di kemudian hari. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi penulis pada khususnya dan pembaca pada umumnya.


DAFTAR PUSTAKA

No comments:

Post a Comment