Friday, October 9, 2015

hera datul hasanah makalah atresia trikuspid


BAB 1
PENDAHULUAN


1.1  LATAR BELAKANG
Trikuspid Atresia (AT) adalah penyakit jantung bawaan dimana tidak adanya katup trikuspid oleh karena it tidak ada koneksi atrioventrikler (komnikasi antara atrium kanan dan ventrikel kanan). Maka dari itu kelangsungan pasien tergantung pada defek septum atrium atau foramen ovale, yang juga merupakan jalan darah dari atrium kanan ke jantung kiri. (Behrman, 1996).
50 % pasien dengan atresia trikuspid menunjukkan gejala sianosis atau bising setelah lahir. Apabila aliran darah ke paru berkurang maka pasien tampak sianotik, makin seikit darah ke paru maka semakin jelas sianosisnya. Bila tidak disertai atresi pulmonal maka terdengan bising sistolik didaerah parasternal kiri. Apabila aliran darah ke paru cukup atau bertambah, maka sianosis hanya ringan, dan gejala yang menonjol adalah gagal jantung. Bila tidak ada defek septum ventrikel maka aliran darah ke paru didapatkan dari duktus arteriosus persisten atau arteri bronkial. 85% pasien dengan atresia trikuspid terdiagnosis pada usia dibawah 2 bulan. Paaien dengan atresia tricuspid mempunyai resiko penutupan VSD secara spontan sehingga dapat mengakibatkan gejala sianosis yang parah (Behrman, 1996).
Di Indonesia penyebab kematian bayi terbanyak karena infeksi, meskipun penyebab lain juga ada yaitu kelainan kongenital termasuk didalamnya kelinan jantung. Insiden penyakit jantung kongenital berkisar 6-8 per 1000 kelahiran, sehingga bila dijumlah kelahiran bayi pada tahn 1983 sekitar 4.841.000 diperkirakan pada tahun 1983 terdapat sekitar 38.728 kasus penyakit kongenital bar di Indonesia (Yip,1987).





1.2  RUMUSAN MASALAH
1.      Apa yang dimaksud dengan Atresia Tikuspid?
2.      Apa saja Tanda dan Gejala dari Atresia Trikuspid?
3.      Bagaimana Penyebab dari Atresia Trikuspid?
4.      Bagaimana Patofisiologi dari Atresia Trikuspid?
1.3  MANFAAT
1.      Untuk mengetahui pengertian dari Atresia Trikuspid
2.      Untuk menginformasikan tanda dan gejala dari Atresia Trikuspid
3.      Untuk mengetahui penyebab dari Atresia Trikuspid
4.      Untk mengetahui patofisiologi dari Atresia Trikuspid






















BAB 2
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Atresia Trikuspid
Atresia Trikuspid adalah cacat jantung yang hadir pada saat lahir (kongenital) dimana salah satu katup (valve trikspid) antara dua ruang jantung tidak terbentuk. Sebaliknya ada jaringan yang solid antara kedua ruang tersebut. Jika bayi lahir dengan atresia trikuspid, darah dari jantung tidak dapat mengalir ke paru-paru untuk mengambil oksigen. Sehingga paru-paru tidak dapat menyediakan kebutuhan oksigen keseluruh tubuh. Bayi dengan trikuspid atresia akan mudah lelah, sesak nafas dan memiliki kulit kebiru-biruan

2.2  Tanda dan Gejala Atresia Trikuspid
1.      Semburat biru pada kulit dan bibir (Sianosis)
2.      Kesulitan bernafas (Dyspnea)
3.      Mudah lelah, terutama pada saat menyusu ASI
4.      Pertumbhan lambat
Beberapa bayi dengan atresia trikuspid juga dapat mengembangkan gejala gagal jantung, seperti:
1.      Kelelahan dan kelemahan
2.      Sesak napas
3.      Pembengkakan (edema) pada pergelangan, lengan dan kaki
4.       Pembengkakan pada perut (ascites)
5.      Berat badan bertambah secara tiba-tiba akibat retensi cairan
           
2.3 Penyebab
Atresia Tricuspid terjadi selama pertumbhan janin ketika jantung mulai berkembang. Beberapa faktor seperti keturunan atau sindrom down, dapat mengakibatkan cacat jantung bawaan.




2.4  Faktor Resiko
Dalam kebanyakan kasus, penyebab utama dari cacat jantung bawaan, seperti trikuspid atresia, tidak diketahui, namun beberapa faktor dapat meningkatkan risiko bayi untuk lahir dengan kondisi ini:
1.      Seorang ibu yang memiliki campak Jerman (rubella) atau penyakit virus lainnya selama awal kehamilan
2.      Orang tua yang memiliki cacat jantung bawaan
3.      Minum alkohol selama masa kehamilan
4.      Seorang ibu dengan diabetes yang tidak terkontrol
5.       Penggunaan beberapa jenis obat selama kehamilan, seperti obat jearawat isotretinoin dan beberapa obat anti-kejang
6.      Adanya sindrom Down, yakni kondisi genetik yang dihasilkan dari kromosom 21 ekstra

2.5  Komplikasi
Komplikasi yang paling signifikan dari trikuspid atresia adalah kurangnya oksigen ke jaringan sel bayi anda (hipoksemia). Hal ini dapat mengancam jiwa.
Walaupun pengobatan sangat efektif untuk meningkatkan kondisi bayi dengan atresia trikuspid, mereka masih mungkin mengalami komplikasi di kemudian hari, bahkan setelah operasi:
a.      Pembentukan bekuan darah yang dapat menyebabkan pemblokiran arteri akibat gumpalan di paru-paru (emboli paru) atau stroke
b.      Mudah lelah ketika berpartisipasi dalam olahraga atau latihan lainnya
c.       Kelainan irama jantung (aritmia)

2.6  Pemeriksaan Diagnostik
1.      Elektrokardiogram (EKG)
2.      Ekokardiogram
3.      Chest X-Ray
4.      Hematologic
5.      Chemistry
6.      Urinalysis
7.      Kateterisasi jantung dan angiografi

2.7  Penatalaksanaan
1.      Saat ini tidak ada cara untuk mengganti katup trikuspid yang rusak. Pengobatan untuk trikuspid atresia biasanya melibatkan prosedur operasi untuk memastikan aliran darah yang memadai ke jantung dan paru-paru, sehingga tubuh bayi menerima darah kaya oksigen dalam jumlah yang memadai. Seringkali, hal ini membutuhkan lebih dari satu prosedur bedah. Obat-obatan juga dapat diberikan sebelum operasi dilakukan.
2.      Operasi
Anak mungkin akan membutuhkan lebih dari satu prosedur pembedahan untuk memperbaiki atresia trikuspid. Beberapa prosedur ini disebut operasi penyelamatan, karena mereka dilakukan sebagai perbaikan sementara untuk segera meningkatkan aliran darah. Berikut ini adalah beberapa prosedur yang diperlukan oleh bayi dengan atresia trikuspid:
a.       Atrial septostomy. Prosedur ini menciptakan atau memperbesar pembukaan antara ruang atas jantung (atrium) agar lebih banyak darah yang bisa mengalir dari atrium kanan ke atrium kiri.
b.      Pengalihan. Menciptakan bypass (shunt) dari pembuluh darah utama yang menuju keluar dari jantung (aorta) ke arteri paru, sehingga memungkinkan aliran darah yang memadai ke paru-paru. Ahli bedah biasanya menanamkan shunt selama empat sampai delapan minggu pertama kehidupan. Namun, bayi akan memerlukan pembedahan lain untuk menggantinya.
c.       Prosedur Glenn. Ketika shunt pertama tidak lagi cocok -karena bayi terus berkembang-, seringkali dibutuhkan operasi untuk mengkondisikan operasi korektif lainnya yang lebih permanen, yang disebut prosedur Fontan. Dokter biasanya melakukan prosedur Glenn ketika seorang anak berusia antara 3 dan 6 bulan. Prosedur ini akan menghubungkan salah satu pembuluh darah besar yang biasanya mengembalikan darah ke jantung (vena kava superior) menjadi mengalir ke arteri pulmonalis sebagai gantinya. Hal ini memungkinkan darah-miskin oksigen dapat mengalir langsung ke paru-paru. Prosedur ini dapat mengurangi beban kerja ventrikel kiri, dan mengurangi risiko kerusakan pada ventrikel tersebut.
d.      Prosedur Fontan. Operasi ini adalah pengobatan standar untuk trikuspid atresia. Meskipun demikian, kebanyakan anak dengan atresia trikuspid tidak menjalani prosedur Fontan sampai mereka berusia setidaknya 2 tahun. Pada operasi Fontan, ahli bedah akan menciptakan jalan bagi darah-miskin oksigen (yang awalnya kembali ke jantung) agar bisa mengalir langsung ke arteri paru, yang kemudian akan mengangkut darah ke paru-paru.
3.      Obat-obatan
Sebelum operasi dilakukan, dokter ahli jantung dapat merekomendasikan obat prostaglandin bagi anak anda untuk membantu melebarkan (dilatasi) pembuluh darah dan menjaga ductus arteriosus dan foramen ovale tetap terbuka.
4.      Perawatan Lanjutan
Untuk memantau kesehatan jantungnya, bayi akan membutuhkan perawatan tindak-lanjut untuk seumur hidupnya dengan ahli jantung yang mengkhususkan diri dalam penyakit jantung bawaan. Ahli jantung anak anda memberitahu apakah anak perlu terus mengonsumsi antibiotik pencegahan sebelum prosedur gigi dan prosedur lainnya. Dalam beberapa kasus, ahli jantung mungkin menyarankan untuk membatasi aktivitas fisik yang terlalu kuat.
Prospek jangka pendek dan menengah bagi anak-anak yang menjalani prosedur Fontan umumnya cukup menjanjikan. Sementara mereka yang menjalani operasi di kemudian hari umumnya mendapat hasil yang cenderung buruk. Berbagai komplikasi dapat terjadi dari waktu ke waktu dan kadang-kadang memerlukan prosedur tambahan. Jika sistem sirkulasi yang dibuat melalui prosedur Fontan gagal, maka transplantasi jantung mungkin diperlukan.

2.8  Pencegahan
Dalam kebanyakan kasus, cacat jantung bawaan, seperti trikuspid atresia, tidak dapat dicegah. Jika memiliki riwayat keluarga dengan cacat jantung atau jika sudah memiliki anak dengan cacat jantung bawaan, seorang konselor genetik dan seorang ahli jantung yang berpengalaman dalam cacat jantung bawaan dapat membantu mengetahui risiko yang terkait dengan kehamilan berikutnya.
Beberapa langkah yang dapat mengurangi risiko cacat jantung dan cacat lainnya pada kehamilan anda antara lain:
a.       Mendapatkan cukup asam folat. Ambil setidaknya 400 mikrogram asam folat setiap hari. Jumlah ini, yang biasanya sudah tercakup dalam suplemen vitamin prenatal, telah terbukti dapat mengurangi risiko cacat sumsum otak dan tulang belakang. Selain itu, asam folat juga dapat membantu mencegah cacat jantung.
b.      Bicarakan dengan dokter mengenai obat yang digunakan. Jika tengah mengonsumsi obat resep ataupun non-resep, produk herbal atau suplemen makanan, periksakan obat-obatan tersebut sebelum menggunakannya selama kehamilan.
c.       Hindari paparan terhadap bahan kimia, bila mungkin. Saat hamil, sangat dianjurkan untuk menghindari bahan-bahan kimia, termasuk produk pembersih rumah tangga dan cat








BAB 3
ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN ATRESIA TRIKUSPID

3.1  Pengkajian
a.       Identitas Klien
Data identitas klien sangat penting untuk sebagai data dasar klien sebelum kita melakukan pemeriksaan. Data ini pula dapat dilakukan perawat untuk melakukan intervensi keperawatan kepada klien. Yang termasuk dalam identitas klien diantaranya nama, jenis kelamin, usia dan tempat tanggal lahir, alamat nomor medrek.
b.      Keluhan Utama
Keluhan utama pada pasien penyakit jantung bawaan adalah yang paling sering klien mengeluh sesak nafas, cepat lelah, kebiruan pada daerah perifer atau mkosa, gagal tumbuh dan sering mengalami batuk pilek berulang.
c.       Riwayat Kesehatan Sekarang
Pada penyakit Atresia Trikspid, pemeriksaan yang biasa dilakukan adalah pengkajian sianosis, dengan ataun tanpa clubbing, getaran sistolik jarang teraba pada pilmonal stenosis, suara jantung S2 normal, terdengar murmur holosistolik jika terdapat atresia trikuspid dengan VSD. Sedangkan murmur kontinus terdengar bila trikuspid atresia disertai dengan PDA. Selain itu pemeriksaan  yang harus dilakukan adalah adanya hepatomegali bila komunikasi interatrial tidak adekuat (Myung K. Park, 2008)
d.      Riwayat Kesehatan Dahulu
Pada kelainan atresia trikuspid tanyakan adanya sianosis berat sejak lahir, takipne, sedikit makan/minm, riwayat spell hipoksia pada bayi baru lahir (Myung K. Park, 2008)
e.       Riwayat Kehamilan dan Kelahiran
Pada penyakit jantung bawaan, sangat erat kaitannya dengan riwayat kehamilan terutama pada trimester pertama yaitu dimana pembentukan jantung mulai pada minggu ke-empat (Behrman,1996). Perlu kita kaji bagaimana proses kehamilannya pada trimester pertama, apakah pada saat hamil ib klien mengalami penyakit infeksi, mempunyai kebiasaan minm-minuman keras, ata pernah mengkonsumsi obat-obatan atau jamu. Penting juga mengkaji bagaimana riwayat kelahiran bayi, apakah normal atau tidak, apakah setelah lahir bayi langsung menangis atau tidak, apakah ada tanda kebiruan pada bayi ada sejak lahir atau setelah beberapa hari, bulan bari muncul, bagaimana keadaan fisik bayi, adakah kelainan bawaan lain, berapa berat badan klien sat lahir.
f.       Riwayat Kesehatan Keluarga
Dikaji terutama riwayat kesehatan ibu klien. Apakah ibu klien menderita penyakit jantung bawaan saat kecil, apakah menderita diabetes milletus, berapa umur ib saat hamil. Selain itu kaji juga apakah ada anak yang sebelmnya menderita penyakit jantung bawaan, apakah ayah dari klien juga pernah mengalami penyakit jantung bawaan.
g.      Riwayat Psikososiospiritual
Kaji bagaimana riwayat psikologis, sosial dan spiritual klien (Jika memungkinkan) juga keluarga klien. Klien ata kelarga juga mengalami gangguan psikososiospiritual.
h.      Riwayat Tumbuh Kembang
Pada penyakit jantung bawaan, kebanyakan anak mengalami gangguan tumbuh kembang. Keadaan ini dapat dikaji dengan menggunakan alat skrining perkembangan salah satunya dengan metode Denver.
i.        Pola ADL
Kaji aktivitas harian klien meliputi pola makan dan minm, eliminasi, istirahat dan tidur, eliminasi bermain.




3.2  Pemeriksaan Fisik
a.       Sistem Pernafasan
Pengkajian terhadap status respirasi bertujan untuk mengetahui secara dini tanda dan gejala tidak adekatnya ventilasi dan oksigen.
b.      Sistem Kardiovaskuler
Meliputi frekuensi dan irama jantung, tekanan darah arteri, tekanan vena sentral (CVP), tekanan arteri paru, tekanan balik par (PCWP), bentuk gelombang pada tekanan darah invasive, crah jantung, dan cardiacindex, drainase rongga dada, fngsi pacemaker.
c.       Sistem Neurologis
Tinngkat responsifitas,ukuran pupil dan reaksi terhadap cahaya, reflex, gerakan ekstremitas, dan kekuatan genggaman tangan.
d.      Sistem Genitorinari
Pasien post operasi biasanya terpasang kateter urin untuk motoring pengeluaran urine dan osmolalitas penting untuk dilakukan pengkajian dan pemantaan secara terus menerus karena berkaitan dengan sirkulasi darah keseluruh organ tubuh.
3.3  Diagnosa Keperawatan
1.      Peningkatan saturasi oksigen berhubngan dengan terbukanya vena kolateral akibat dari de dekompresi aliran darar tubuh
2.      Nyeri berhubungan dengan pengeluaran sekresi/pengelaran mediator kimia.
3.      Resiko infeksi berhubungan dengan luka insisi post operasi









BAB 4
PENUTUP

4.1  Kesimpulan
Atresia Trikuspid adalah cacat jantung yang hadir pada saat lahir (kongenital) dimana salah satu katup (valve trikspid) antara dua ruang jantung tidak terbentuk.
Tanda dan gejalanya : Semburat biru pada kulit dan bibir (Sianosis), Kesulitan bernafas (Dyspnea),Mudah lelah, terutama pada saat menyusu ASI, Pertumbhan lambat.
Atresia Tricuspid terjadi selama pertumbhan janin ketika jantung mulai berkembang. Beberapa faktor seperti keturunan atau sindrom down, dapat mengakibatkan cacat jantung bawaan.



















DAFTAR PUSTAKA

Markum A.H 2007, Buku Ajar Ilmu Kesehatan Anak Jilid 1 Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta
Arvin. B K 2007 Ilmu Kesehatan Anak Edisi 15 Fakultas kedokteran Universitas Indonesia Jakarta EGC


No comments:

Post a Comment