BAB
1
PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Trikuspid
Atresia (AT) adalah penyakit jantung bawaan dimana tidak adanya katup trikuspid
oleh karena it tidak ada koneksi atrioventrikler (komnikasi antara atrium kanan
dan ventrikel kanan). Maka dari itu kelangsungan pasien tergantung pada defek
septum atrium atau foramen ovale, yang juga merupakan jalan darah dari atrium
kanan ke jantung kiri. (Behrman, 1996).
50 % pasien
dengan atresia trikuspid menunjukkan gejala sianosis atau bising setelah lahir.
Apabila aliran darah ke paru berkurang maka pasien tampak sianotik, makin
seikit darah ke paru maka semakin jelas sianosisnya. Bila tidak disertai atresi
pulmonal maka terdengan bising sistolik didaerah parasternal kiri. Apabila
aliran darah ke paru cukup atau bertambah, maka sianosis hanya ringan, dan gejala
yang menonjol adalah gagal jantung. Bila tidak ada defek septum ventrikel maka
aliran darah ke paru didapatkan dari duktus arteriosus persisten atau arteri
bronkial. 85% pasien dengan atresia trikuspid terdiagnosis pada usia dibawah 2
bulan. Paaien dengan atresia tricuspid mempunyai resiko penutupan VSD secara
spontan sehingga dapat mengakibatkan gejala sianosis yang parah (Behrman,
1996).
Di Indonesia penyebab kematian bayi
terbanyak karena infeksi, meskipun penyebab lain juga ada yaitu kelainan
kongenital termasuk didalamnya kelinan jantung. Insiden penyakit jantung
kongenital berkisar 6-8 per 1000 kelahiran, sehingga bila dijumlah kelahiran
bayi pada tahn 1983 sekitar 4.841.000 diperkirakan pada tahun 1983 terdapat sekitar
38.728 kasus penyakit kongenital bar di Indonesia (Yip,1987).
1.2 RUMUSAN MASALAH
1.
Apa yang dimaksud dengan Atresia
Tikuspid?
2.
Apa saja Tanda dan Gejala dari Atresia
Trikuspid?
3.
Bagaimana Penyebab dari Atresia
Trikuspid?
4.
Bagaimana Patofisiologi dari Atresia
Trikuspid?
1.3 MANFAAT
1.
Untuk mengetahui pengertian dari Atresia
Trikuspid
2.
Untuk menginformasikan tanda dan gejala
dari Atresia Trikuspid
3.
Untuk mengetahui penyebab dari Atresia
Trikuspid
4.
Untk mengetahui patofisiologi dari
Atresia Trikuspid
BAB 2
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Atresia
Trikuspid
Atresia
Trikuspid adalah cacat jantung yang hadir pada saat lahir (kongenital) dimana
salah satu katup (valve trikspid) antara dua ruang jantung tidak terbentuk.
Sebaliknya ada jaringan yang solid antara kedua ruang tersebut. Jika bayi lahir
dengan atresia trikuspid, darah dari jantung tidak dapat mengalir ke paru-paru
untuk mengambil oksigen. Sehingga paru-paru tidak dapat menyediakan kebutuhan
oksigen keseluruh tubuh. Bayi dengan trikuspid atresia akan mudah lelah, sesak
nafas dan memiliki kulit kebiru-biruan
2.2 Tanda dan Gejala Atresia Trikuspid
1. Semburat
biru pada kulit dan bibir (Sianosis)
2. Kesulitan
bernafas (Dyspnea)
3. Mudah
lelah, terutama pada saat menyusu ASI
4. Pertumbhan
lambat
Beberapa bayi dengan atresia trikuspid juga dapat
mengembangkan gejala gagal jantung, seperti:
1. Kelelahan
dan kelemahan
2. Sesak
napas
3. Pembengkakan
(edema) pada pergelangan, lengan dan kaki
4. Pembengkakan pada perut (ascites)
5. Berat
badan bertambah secara tiba-tiba akibat retensi cairan
2.3
Penyebab
Atresia
Tricuspid terjadi selama pertumbhan janin ketika jantung mulai berkembang.
Beberapa faktor seperti keturunan atau sindrom down, dapat mengakibatkan cacat
jantung bawaan.
2.4 Faktor Resiko
Dalam kebanyakan
kasus, penyebab utama dari cacat jantung bawaan, seperti trikuspid atresia,
tidak diketahui, namun beberapa faktor dapat meningkatkan risiko bayi untuk
lahir dengan kondisi ini:
1. Seorang
ibu yang memiliki campak Jerman (rubella) atau penyakit virus lainnya selama
awal kehamilan
2. Orang
tua yang memiliki cacat jantung bawaan
3. Minum
alkohol selama masa kehamilan
4. Seorang
ibu dengan diabetes yang tidak terkontrol
5. Penggunaan beberapa jenis obat selama
kehamilan, seperti obat jearawat isotretinoin dan beberapa obat anti-kejang
6. Adanya
sindrom Down, yakni kondisi genetik yang dihasilkan dari kromosom 21 ekstra
2.5 Komplikasi
Komplikasi yang
paling signifikan dari trikuspid atresia adalah kurangnya oksigen ke jaringan
sel bayi anda (hipoksemia). Hal ini dapat mengancam jiwa.
Walaupun
pengobatan sangat efektif untuk meningkatkan kondisi bayi dengan atresia
trikuspid, mereka masih mungkin mengalami komplikasi di kemudian hari, bahkan
setelah operasi:
a.
Pembentukan bekuan darah yang dapat
menyebabkan pemblokiran arteri akibat gumpalan di paru-paru (emboli paru) atau
stroke
b. Mudah
lelah ketika berpartisipasi dalam olahraga atau latihan lainnya
c. Kelainan
irama jantung (aritmia)
2.6 Pemeriksaan Diagnostik
1. Elektrokardiogram
(EKG)
2. Ekokardiogram
3. Chest
X-Ray
4. Hematologic
5. Chemistry
6. Urinalysis
7. Kateterisasi
jantung dan angiografi
2.7 Penatalaksanaan
1. Saat
ini tidak ada cara untuk mengganti katup trikuspid yang rusak. Pengobatan untuk
trikuspid atresia biasanya melibatkan prosedur operasi untuk memastikan aliran
darah yang memadai ke jantung dan paru-paru, sehingga tubuh bayi menerima darah
kaya oksigen dalam jumlah yang memadai. Seringkali, hal ini membutuhkan lebih
dari satu prosedur bedah. Obat-obatan juga dapat diberikan sebelum operasi
dilakukan.
2. Operasi
Anak mungkin
akan membutuhkan lebih dari satu prosedur pembedahan untuk memperbaiki atresia
trikuspid. Beberapa prosedur ini disebut operasi penyelamatan, karena mereka
dilakukan sebagai perbaikan sementara untuk segera meningkatkan aliran darah.
Berikut ini adalah beberapa prosedur yang diperlukan oleh bayi dengan atresia
trikuspid:
a. Atrial
septostomy. Prosedur ini menciptakan atau memperbesar pembukaan antara ruang
atas jantung (atrium) agar lebih banyak darah yang bisa mengalir dari atrium
kanan ke atrium kiri.
b. Pengalihan.
Menciptakan bypass (shunt) dari pembuluh darah utama yang menuju keluar dari
jantung (aorta) ke arteri paru, sehingga memungkinkan aliran darah yang memadai
ke paru-paru. Ahli bedah biasanya menanamkan shunt selama empat sampai delapan
minggu pertama kehidupan. Namun, bayi akan memerlukan pembedahan lain untuk
menggantinya.
c. Prosedur
Glenn. Ketika shunt pertama tidak lagi cocok -karena bayi terus berkembang-,
seringkali dibutuhkan operasi untuk mengkondisikan operasi korektif lainnya
yang lebih permanen, yang disebut prosedur Fontan. Dokter biasanya melakukan
prosedur Glenn ketika seorang anak berusia antara 3 dan 6 bulan. Prosedur ini
akan menghubungkan salah satu pembuluh darah besar yang biasanya mengembalikan
darah ke jantung (vena kava superior) menjadi mengalir ke arteri pulmonalis
sebagai gantinya. Hal ini memungkinkan darah-miskin oksigen dapat mengalir
langsung ke paru-paru. Prosedur ini dapat mengurangi beban kerja ventrikel
kiri, dan mengurangi risiko kerusakan pada ventrikel tersebut.
d. Prosedur
Fontan. Operasi ini adalah pengobatan standar untuk trikuspid atresia. Meskipun
demikian, kebanyakan anak dengan atresia trikuspid tidak menjalani prosedur
Fontan sampai mereka berusia setidaknya 2 tahun. Pada operasi Fontan, ahli
bedah akan menciptakan jalan bagi darah-miskin oksigen (yang awalnya kembali ke
jantung) agar bisa mengalir langsung ke arteri paru, yang kemudian akan
mengangkut darah ke paru-paru.
3. Obat-obatan
Sebelum operasi
dilakukan, dokter ahli jantung dapat merekomendasikan obat prostaglandin bagi
anak anda untuk membantu melebarkan (dilatasi) pembuluh darah dan menjaga
ductus arteriosus dan foramen ovale tetap terbuka.
4. Perawatan
Lanjutan
Untuk memantau
kesehatan jantungnya, bayi akan membutuhkan perawatan tindak-lanjut untuk
seumur hidupnya dengan ahli jantung yang mengkhususkan diri dalam penyakit
jantung bawaan. Ahli jantung anak anda memberitahu apakah anak perlu terus
mengonsumsi antibiotik pencegahan sebelum prosedur gigi dan prosedur lainnya.
Dalam beberapa kasus, ahli jantung mungkin menyarankan untuk membatasi
aktivitas fisik yang terlalu kuat.
Prospek jangka
pendek dan menengah bagi anak-anak yang menjalani prosedur Fontan umumnya cukup
menjanjikan. Sementara mereka yang menjalani operasi di kemudian hari umumnya
mendapat hasil yang cenderung buruk. Berbagai komplikasi dapat terjadi dari
waktu ke waktu dan kadang-kadang memerlukan prosedur tambahan. Jika sistem
sirkulasi yang dibuat melalui prosedur Fontan gagal, maka transplantasi jantung
mungkin diperlukan.
2.8 Pencegahan
Dalam kebanyakan
kasus, cacat jantung bawaan, seperti trikuspid atresia, tidak dapat dicegah.
Jika memiliki riwayat keluarga dengan cacat jantung atau jika sudah memiliki
anak dengan cacat jantung bawaan, seorang konselor genetik dan seorang ahli
jantung yang berpengalaman dalam cacat jantung bawaan dapat membantu mengetahui
risiko yang terkait dengan kehamilan berikutnya.
Beberapa langkah
yang dapat mengurangi risiko cacat jantung dan cacat lainnya pada kehamilan
anda antara lain:
a. Mendapatkan
cukup asam folat. Ambil setidaknya 400 mikrogram asam folat setiap hari. Jumlah
ini, yang biasanya sudah tercakup dalam suplemen vitamin prenatal, telah
terbukti dapat mengurangi risiko cacat sumsum otak dan tulang belakang. Selain
itu, asam folat juga dapat membantu mencegah cacat jantung.
b. Bicarakan
dengan dokter mengenai obat yang digunakan. Jika tengah mengonsumsi obat resep
ataupun non-resep, produk herbal atau suplemen makanan, periksakan obat-obatan
tersebut sebelum menggunakannya selama kehamilan.
c. Hindari
paparan terhadap bahan kimia, bila mungkin. Saat hamil, sangat dianjurkan untuk
menghindari bahan-bahan kimia, termasuk produk pembersih rumah
tangga dan cat
BAB 3
ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN
ATRESIA TRIKUSPID
3.1 Pengkajian
a. Identitas
Klien
Data identitas
klien sangat penting untuk sebagai data dasar klien sebelum kita melakukan pemeriksaan.
Data ini pula dapat dilakukan perawat untuk melakukan intervensi keperawatan
kepada klien. Yang termasuk dalam identitas klien diantaranya nama, jenis
kelamin, usia dan tempat tanggal lahir, alamat nomor medrek.
b. Keluhan
Utama
Keluhan utama
pada pasien penyakit jantung bawaan adalah yang paling sering klien mengeluh
sesak nafas, cepat lelah, kebiruan pada daerah perifer atau mkosa, gagal tumbuh
dan sering mengalami batuk pilek berulang.
c. Riwayat
Kesehatan Sekarang
Pada penyakit
Atresia Trikspid, pemeriksaan yang biasa dilakukan adalah pengkajian sianosis,
dengan ataun tanpa clubbing, getaran sistolik jarang teraba pada pilmonal
stenosis, suara jantung S2 normal, terdengar murmur holosistolik jika terdapat
atresia trikuspid dengan VSD. Sedangkan murmur kontinus terdengar bila
trikuspid atresia disertai dengan PDA. Selain itu pemeriksaan yang harus dilakukan adalah adanya
hepatomegali bila komunikasi interatrial tidak adekuat (Myung K. Park, 2008)
d. Riwayat
Kesehatan Dahulu
Pada kelainan
atresia trikuspid tanyakan adanya sianosis berat sejak lahir, takipne, sedikit
makan/minm, riwayat spell hipoksia pada bayi baru lahir (Myung K. Park, 2008)
e. Riwayat
Kehamilan dan Kelahiran
Pada penyakit
jantung bawaan, sangat erat kaitannya dengan riwayat kehamilan terutama pada
trimester pertama yaitu dimana pembentukan jantung mulai pada minggu ke-empat
(Behrman,1996). Perlu kita kaji bagaimana proses kehamilannya pada trimester
pertama, apakah pada saat hamil ib klien mengalami penyakit infeksi, mempunyai
kebiasaan minm-minuman keras, ata pernah mengkonsumsi obat-obatan atau jamu.
Penting juga mengkaji bagaimana riwayat kelahiran bayi, apakah normal atau
tidak, apakah setelah lahir bayi langsung menangis atau tidak, apakah ada tanda
kebiruan pada bayi ada sejak lahir atau setelah beberapa hari, bulan bari
muncul, bagaimana keadaan fisik bayi, adakah kelainan bawaan lain, berapa berat
badan klien sat lahir.
f. Riwayat
Kesehatan Keluarga
Dikaji terutama
riwayat kesehatan ibu klien. Apakah ibu klien menderita penyakit jantung bawaan
saat kecil, apakah menderita diabetes milletus, berapa umur ib saat hamil.
Selain itu kaji juga apakah ada anak yang sebelmnya menderita penyakit jantung
bawaan, apakah ayah dari klien juga pernah mengalami penyakit jantung bawaan.
g. Riwayat
Psikososiospiritual
Kaji bagaimana
riwayat psikologis, sosial dan spiritual klien (Jika memungkinkan) juga
keluarga klien. Klien ata kelarga juga mengalami gangguan psikososiospiritual.
h. Riwayat
Tumbuh Kembang
Pada penyakit
jantung bawaan, kebanyakan anak mengalami gangguan tumbuh kembang. Keadaan ini
dapat dikaji dengan menggunakan alat skrining perkembangan salah satunya dengan
metode Denver.
i.
Pola ADL
Kaji aktivitas
harian klien meliputi pola makan dan minm, eliminasi, istirahat dan tidur, eliminasi
bermain.
3.2 Pemeriksaan Fisik
a. Sistem
Pernafasan
Pengkajian
terhadap status respirasi bertujan untuk mengetahui secara dini tanda dan
gejala tidak adekatnya ventilasi dan oksigen.
b. Sistem
Kardiovaskuler
Meliputi
frekuensi dan irama jantung, tekanan darah arteri, tekanan vena sentral (CVP),
tekanan arteri paru, tekanan balik par (PCWP), bentuk gelombang pada tekanan
darah invasive, crah jantung, dan cardiacindex, drainase rongga dada, fngsi
pacemaker.
c. Sistem
Neurologis
Tinngkat
responsifitas,ukuran pupil dan reaksi terhadap cahaya, reflex, gerakan
ekstremitas, dan kekuatan genggaman tangan.
d. Sistem
Genitorinari
Pasien post
operasi biasanya terpasang kateter urin untuk motoring pengeluaran urine dan
osmolalitas penting untuk dilakukan pengkajian dan pemantaan secara terus
menerus karena berkaitan dengan sirkulasi darah keseluruh organ tubuh.
3.3 Diagnosa Keperawatan
1. Peningkatan
saturasi oksigen berhubngan dengan terbukanya vena kolateral akibat dari de
dekompresi aliran darar tubuh
2. Nyeri
berhubungan dengan pengeluaran sekresi/pengelaran mediator kimia.
3. Resiko
infeksi berhubungan dengan luka insisi post operasi
BAB
4
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Atresia
Trikuspid adalah cacat jantung yang hadir pada saat lahir (kongenital) dimana
salah satu katup (valve trikspid) antara dua ruang jantung tidak terbentuk.
Tanda
dan gejalanya : Semburat biru pada kulit dan bibir (Sianosis), Kesulitan
bernafas (Dyspnea),Mudah lelah, terutama pada saat menyusu ASI, Pertumbhan
lambat.
Atresia Tricuspid terjadi selama
pertumbhan janin ketika jantung mulai berkembang. Beberapa faktor seperti
keturunan atau sindrom down, dapat mengakibatkan cacat jantung bawaan.
DAFTAR
PUSTAKA
Markum A.H 2007, Buku Ajar Ilmu Kesehatan Anak Jilid 1 Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia, Jakarta
Arvin. B K 2007 Ilmu Kesehatan Anak Edisi 15 Fakultas kedokteran Universitas
Indonesia Jakarta EGC
No comments:
Post a Comment