MAKALAH
BERAT
BADAN LAHIR RENDAH
(
BBLR )

Makalah ini disusun
untuk memenuhi tugas dari Dosen kami :
Ns. Nurmalasari Eka
Pratiwi . S.kep
Disusun oleh :
Adhimatul Faiqoh
Ahmad Ainul Yaqin
Avis Dwi Priyatna
Ginanjar Suhartono
Heradatul Hasanah
Kikidatus Sa’adah
Nadhiratil Laili
Novita sari
|
|
|
PROGRAM STUDI D III KEPERAWATAN
UNIVERSITAS BONDOWOSO
T.A 2015 – 2016
|
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Bayi lahir
dengan bayi berat lahir rendah (BBLR) merupakan salah satu factor resiko yang
mempunyai kontribusi terhadap kematian bayi khususnya pada masa perinatal.
Selain itu bayi berat lahir rendah dapat mengalami gangguan mental dan fisik
pada usia tumbuh kembang selanjutnya, sehingga membutahkan biaya perawatan yang
tinggi.
Bayi berat
lahir rendah (BBLR) adalah salah satu hasil dari ibu hamil yang menderita
energy kronis dan akan mempunyai status gizi buruk. BBLR berkaitan dengan
tingginya angka kematian bayi dan balita, juga dapat berdampak serius pada
kualitas generasi mendatang, yaitu akan memperlambat pertumbuhan dan
perkambangan anak, serta berpengaruh pada penurunan kecerdasan.
Salah satu
indikator untuk mengetahui derajat kesehatan masyarakat
adalah angka kematian bayi (AKB).Angka kematian bayi di Indonesia saat ini
masih tergolong tinggi, maka kematian bayi di Indonesia tercatat 510 per 1000
kelahiran hidup pada tahun 2003.Ini memang bukan gambaran yang indah karena
masih tergolong tinggi bila di bandingkan dengan Negara-negara di ASEAN.
Penyebab kematian bayi terbanyak karena kelahiran bayi berat lahir rendah
(BBLR), sementara itu prevalensi BBLR pada saat ini diperkirakan 7-14% yaitu
sekitar 459.200-900.000 bayi (Depkes RI
2005)
Menurut
perkiraan WHO, pada tahun 1995 hampir semua 98% dari 5 juta kematian neonatal
di Negara berkembang atau berpenghasilan rendah. Lebih dari 2/3 kematian adalah
BBLR yaitu berat badan kurang dari 2500 gram. Secara global diperkirakan
terdapat 25 juta persalinan per tahun dimana 17% diantaranya adalah BBLR dan
hampir semua terjadi di Negara berkembang.
B. Rumusan Masalah
1. Apa yang
dimaksud dengan BBLR ?
2. Apa etiologi BBLR ?
3. Bagaimana tanda – tanda klinis
BBLR ?
4. Apa saja komplikasi pada BBLR
?
5. Bagaimana penatalaksanaan pada
BBLR ?
6. Bagaimana pemeriksaan
diagnostik pada BBLR ?
7. Bagaimana pencegahan pada
BBLR?
C. Tujuan
1. Untuk
mengetahui apa yang dimaksud dengan BBLR
2. Untuk mengetahui etiologi BBLR
3. Untuk mengetahui tanda – tanda
klinis BBLR
4. Untuk mengetahui komplikasi
pada BBLR
5. Untuk megetahui pentalaksanaan
pada BBLR
6. Untuk mengetahui pemeriksaan
diagnostik pada BBLR
7. Untuk mengetahui pencegahan
pada BBLR
D. Manfaat
1. Mahasiswa mengerti apa yang
dimaksud dengan BBLR
2. Mahasiswa mengerti etiologi
BBLR
3. Mahasiswa mengerti tanda –
tanda klinis BBLR
4. Mahasiswa mengerti komplikasi
pada BBLR
5. Mahasiswa mengetahui
pentalaksanaan pada BBLR
6. Mahasiswa mengetahui
pemeriksaan diagnostik pada BBLR
7. Mahasiswa mengetahui
pencegahan pada BBLR
BAB II
PEMBAHASAN
A.
DEFINISI
Bayi
berat badan lahir rendah adalah bayi dengan berat badan lahir kurang dari 2500
gram (Arief, 2009). Dahulu bayi baru lahir yang berat badan lahir kurang atau
sama dengan 2500 gram disebut premature. Untuk mendapatkan keseragaman pada
kongres European Perinatal Medicine II di London (1970), telah disusun
definisi sebagai berikut:
1. Preterm infant (premature) atau bayi
kurang bulan: bayi dengan masa kehamilan kurang dari 37 minggu (259 hari)
2. Term infant atau bayi cukup bulan:
bayi dengan masa kehamilan mulai 37 minggu sampai dengan 42 minggu (259-293
hari)
3. Post term atau bayi lebih bulan:
bayi dengan masa kehamilan mulai 42 minggu atau lebih (294 hari atau lebih)
World Health Organization (WHO) pada tahun 1961 menyatakan
bahwa semua bayi baru lahir yang berat badannya kurang atau sama dengan 2500
gram disebut low birth weight infant (bayi berat badan lahir
rendah/BBLR), karena morbiditas dan mortalitas neonatus tidak hanya bergantung pada berat
badannya tetapi juga pada tingkat kematangan (maturitas) bayi tersebut.
Definisi WHO tersebut dapat disimpulkan secara ringkas bahwa bayi berat badan
lahir rendah adalah bayi yang lahir dengan berat badan kurang atau sama dengan
2500 gram.
Klasifikasi BBLR :
a.
Berdasarkan BB lahir
1.BBLR : BB < 2500gr
2.BBLSR
: BB 1000-1500gr
3.BBLASR : BB
<1000 gr
b. Berdasarkan umur
kehamilan
1. Prematur
Adalah bayi lahir dengan umur
kehamilan kurang dari 37 minggu dan mempunyai berat badan sesuai dengan berat
badan untuk masa kehamilan atau disebut Neonatus Kurang Bulan – Sesuai Masa
Kehamilan ( NKB- SMK).
2.
Dismaturitas.
Adalah bayi lahir dengan berat
badan kurang dari berat badan seharusnya untuk masa kehamilan, dismatur dapat
terjadi dalam preterm, term, dan post term. Dismatur ini dapat juga Neonatus Kurang Bulan – Kecil untuk Masa Kehamilan
(NKB- KMK),
Neonatus Cukup Bulan-Kecil Masa
Kehamilan ( NCB-KMK ), Neonatus Lebih Bulan-Kecil Masa Kehamilan ( NLB- KMK )
B. ETIOLOGI
Penyebab
terbanyak terjadinya BBLR adalah kelahiran premature. Faktor ibu yang lain adalah umur,
parietas, dan lain-lain. Faktor plasenta seperti penyakit vaskuler, kehamilan
kembar/ganda, serta factor janin juga merupakan penyebab terjadinya BBLR.
BBLR dapat disebabkan oleh beberapa faktor yaitu:
1. Faktor Ibu
a.
Penyakit:
1) Toksemia gravidarum
2) Perdarahan antepartum
3) Truma fisik dan psikologis
4) Nefritis akut
5) Diabetes mellitus
b. Usia Ibu
1) Usia <16 tahun
2) Usia >35 tahun
3) Multigravida yang jarak kelahirannya
terlalu dekat
c.
Keadaan
social
1) Golongan social ekonomi rendah
2) Perkawinan yang tidak sah
d. Sebab lain
1) Ibu yang perokok
2) Ibu peminum alcohol
3) Ibu pecandu narkotik
2. Faktor janin
a. Hidramnion
b. Kehamilan ganda
c. Kelainan kromosom
3. Faktor lingkungan
a. Tempat tinggal dataran tinggi
b. Radiasi
c. Zat-zat racun.
C. Tanda – tanda klinis
Gambaran
klinis BBLR secara umum adalah :
1. Berat kurang
dari 2500 gram
2. Panjang
kurang dari 45 cm
3. Lingkar dada
kurang dari 30 cm
4. Lingkar
kepala kurang dari 33 cm
5. Umur
kehamilan kurang dari 37 minggu
6. Kepala lebih
besar
7. Kulit tipis,
transparan, rambut lanugo banyak, lemak kurang
8. Otot
hipotonik lemah
9. Pernapasan
tak teratur dapat terjadi apnea
10. Eksremitas :
paha abduksi, sendi lutut / kaki fleksi-lurus
11. Kepala tidak
mampu tegak
12. Pernapasan
40 – 50 kali / menit
13. Nadi 100 –
140 kali / menit
Gambaran klinis BBLR secara khusus:
A. Tanda-tanda
Bayi Prematur
1. BB kurang dari 2500 gr, PB kurang dari 45 cm, lingkar kepala kurang dari 33
cm, lingkar dada kurang 30 cm.
2. Umur kehamilan kurang dari 37 mg.
3. Kepala relatif lebih besar dari pada badannya.
4. Rambut tipis dan halus, ubun-ubun
dan sutura lebar.
5. Kepala mengarah ke satu sisi.
6. Kulit tipis dan transparan, lanugo
banyak, lemak subkutan kurang, seringtampak peristaltik usus.
7. Tulang rawan dan daun telinga imatur.
8. Puting susu belum terbentuk dengan baik.
9. Pergerakan kurang dan lemah.
10. Reflek menghisap dan menelan belum sempurna.
11. Tangisnya lemah dan jarang, pernafasan masih belum teratur.
12. Otot-otot masih hipotonis sehingga sikap selalu dalam keadaan kedua
pahaabduksi, sendi lutut dan pergelangan kaki fleksi atau lurus.
13. Genetalia belum sempurna, labia minora belum tertutup oleh labia mayora
(pada wanita), dan testis belum turun (pada laki laki).
B. Tanda-tanda pada Bayi Dismatur
1.
Preterm sama dengan bayi
premature
2.
Term dan post term :
a. Kulit pucat atau bernoda, keriput tipis.
b. Vernik caseosa sedikit/kurang atau tidak ada.
c. Jaringan lemak di bawah kulit sedikit.
d. Pergerakan gesit, aktif dan kuat.
e. Tali pusat kuning kehijauan.
f. Mekonium kering.
g. Luas permukaan tubuh relatif lebih besar dibandingkan BB.
D. Komplikasi pada BBLR
Komplikasi yang dapat terjadi pada
bayi dengan berat badan lahir rendah, terutama berhubungan dengan 4 proses
adaptasi pada bayi baru lahir diantaranya:
a. Sistem Pernafasan: Sindrom aspirasi mekonium, asfiksia neonatorum, sindrom distres respirasi,
penyakit membran hialin
b. Sistem Kardiovaskuler: patent ductus
arteriosus
c. Termoregulasi: Hipotermia
d. Hipoglikemia simtomatik
1.
Pada prematur yaitu :
a. Sindrom gangguan pernapasan idiopatik
disebut juga penyakit membran hialin karena pada
stadium terakhir akan terbentuk membran hialin yang melapisi alveoulus paru.
b. Pneumonia Aspirasi
Disebabkan karena infeksi menelan dan batuk belum sempurna, sering
ditemukan pada bayi prematur.
c. Perdarahan intra ventikuler
Perdarahan spontan diventikel otot lateral biasanya disebabkan oleh karena
anoksia otot. Biasanya terjadi kesamaan dengan pembentukan membran hialin pada
paru. Kelainan ini biasanya ditemukan pada atopsi.
d. Hyperbilirubinemia
Bayi prematur lebih sering mengalami hyperbilirubinemia dibandingkan dengan
bayi cukup bulan. Hal ini disebabkan faktor kematangan hepar sehingga
konjungtiva bilirubium indirek menjadi bilirubium direk belum sempurna.
e. Masalah suhu tubuh
Masalah ini karena pusat pengeluaran nafas badan masih belum sempurna. Luas
badan bayi relatif besar sehingga penguapan bertambah. Otot bayi masih lemah,
lemak kulit kurang, sehingga cepat kehilangan panas badan. Kemampuan
metabolisme panas rendah, sehingga bayi BBLR perlu diperhatikan agar tidak
terlalu banyak kehilangan panas badan dan dapat dipertahankan sekitar (36,5 –
37,5 0C)
2.
Pada bayi Dismatur
Pada umumnya maturitas fisiologik bayi ini sesuai dengan masa gestasinya
dan sedikit dipengaruhi oleh gangguan-gangguan pertumbuhan di dalam uterus.
Dengan kata lain, alat-alat dalam tubuhnya sudah berkembang lebih baik bila
dibandingkan dengan bayi dismatur dengan berat yang sama. Dengan demikian bayi
yang tidak dismatur lebih mudah hidup di luar kandungan. Walaupun demikian
harus waspada akan terjadinya beberapa komplikasi yang harus ditangani dengan
baik.
a. Aspirasi mekonium yang sering diikuti pneumotaritas Ini disebabkan stress
yang sering dialami bayi pada persalinan.
b. Usher (1970) melaporkan bahwa 50% bayi KMK mempunyai hemoglobin yang tinggi
yang mungkin disebabkan oleh hipoksia kronik di dalam uterus.
c. Hipoglikemia terutama bila pemberian minum terlambat agaknya hipoglikemia
ini disebabkan oleh berkurangnya cadangan glikogen hati dan meningginya
metabolisme bayi.
d. Keadaan lain yang mungkin terjadi ; asfiksia, perdarahan paru yang pasif,
hipotermia, cacat bawaan akibat kelainan kromosom (sindrom down's, turner dan
lain-lain) cacat bawaan oleh karena infeksi intrauterine dan sebagainya.
Adapun komplikasi pada BBLR jika
bayi dismatur adalah, sebagai berikut :
1. Suhu tubuh yang tidak stabil.
2. Gangguan pernafasan yang sering menimbulkan penyakit berat pada BBLR.
3. Gangguan alat pencernaan dan problema nutrisi.
4. Ginjal yang immature baik secara otomatis maupun fungsinya.
5. Perdarahan mudah terjadi karena pembuluh darah yang rapuh.
6. Gangguan immunologic.
E. PENATALAKSANAAN
1. Medikamentosa
Pemberian
vitamin K1:
a. Injeksi 1 mg IM sekali pemberian,
atau
b. Per oral 2 mg sekali pemberian atau
1 mg 3 kali pemberian (saat lahir, umur 3-10 hari, dan umur 406 minggu)
2. Diatetik
Pemberian
nutrisi yang adekuat
a. Apabila daya isap belum baik, bayi
dicoba untuk menetek sedikit demi sedikit
b. Apabila bayi belum bisa meneteki
pemberian ASI diberikan melalui sendok atau pipet
c. Apabila bayi belum ada reflek
menghisap dan menelan harus dipasang siang penduga/ sonde fooding
Bayi
premature atau BBLR mempunyai masalah menyusui karena refleks menghisapnya
masih lemah.Untuk bayi demikian sebaiknya ASI dikeluarkan dengan pompa atau diperas
dan diberikan pada bayi dengan pipa lambung atau pipet.Dengan memegang kepala
dan menahan bawah dagu, bayi dapat dilatih untuk menghisap sementara ASI yang
telah dikeluarkan yang diberikan dengan pipet atau selang kecil yang diberikan
dengan pipet atau selang kecil yang menempel pada putting. ASI merupakan
pilihan utama:
a. Apabila bayi mendapat ASI, pastikan
bayi menerima jumlah yang cukup dengan cara apapun, perhatikan cara pemberian
ASI dan nilai kemampuan bayi menghisap paling kurang sehari sekali.
b. Apabila bayi sudah tidak mendapatkan
cairan IV dan beratnya naik 20 g/hari selama 3 hari berturut-turut, timbang
bayi 2 kali seminggu.
Pemberian
minum bayi berat lahir rendah (BBLR) menurut berat badan lahir dan keadaan bayi
adalah sebagai berikut
a. Berat lahir 1750-2500 gram
1) Bayi sehat
a) Biarkan bayi menyusu pada ibu semau
bayi. Ingat bahwa bayi kecil lebih mudah merasa letih dan malas minum, anjurkan
bayi menyusu lebih sering (contoh; setiap 2 jam) bila perlu
b) Pantau pemberian minum dan kenaikan
berat badan untuk menilai efektifitas menyusui. Apabila bayi kurang dapat
menghisap tambahkan ASI peras dengan menggunakan salah satu alternative cara
pemberian minum.
2) Bayi sakit
a) Apabila bayi dapat minum per oral
dan tidak memerlukan cairan IV, berikan minum seperti pada bayi sehat
b) Apabila bayi memerlukan cairan
intravena:
1. Berikan cairan intravena hanya
selama 24 jam pertama
2. Mulai berikan minum per oral pada
hari ke-2 segera setelah bayi stabil. Anjurkan pemberian ASI apabila ibu ada
dan bayi menunjukkan tanda-tanda siap untuk menyusu
c) Apabila masalah sakitnya menghalangi
proses menyusui (contoh; gangguan nafas, kejang), berikan ASI peras melalui
pipa lambung:
1. Berikan cairan IV dan ASI menurut
umur
2. Berikan minum 8 kali dalam 24 jam
(contoh; 3 jam sekali). Apabila bayi telah mendapat minum 160 ml/kgBB per hari
tetapi masih tampak lapar berikan tambahan ASI setiap kali minum. Biarkan bayi
menyusu apabila keadaan bayi sudah stabil dan bayi menunjukkan keinginan untuk
menyusu dan dapat menyusu tanpa terbatuk atau tersedak.
b. Berat lahir 1500-1749 gram
1) Bayi sehat
a) Berikan ASI peras dengan
cangkir/sendok. Bila jumlah yang dibutuhkan tidak dapat diberikan
menggunakancangkir/sendok atau ada resiko terjadi aspirasi ke dalam paru (batuk
atau tersedak), berikan minum dengan pipa lambung. Lanjutkan dengan pemberian
menggunakan cangkir/sendok apabila bayi dapat menelan tanpa batuk atau tersedak
(ini dapat berlangsung setelah 1-2 hari namun ada kalanya memakan waktu lebih
dari 1 minggu)
b) Berikan minum 8 kali dalam 24 jam
(missal setiap 3 jam). Apabila bayi telah mendapatkan minum 160/kgBB per hari
tetapi masih tampak lapar, beri tambahan ASI setiap kali minum.
c) Apabila bayi telah mendapatkan minum
baik menggunakan sendok/cangkir, coba untuk menyusui langsung.
2) Bayi sakit
a) Berikan cairan intravena hanya
selama 24 jam pertama
b) Beri ASI peras dengan pipa lambung
mulai hari ke-2 dan kurangi jumlah cairan IV secara perlahan.
c) Berikan minum 8 kali dalam 24 jam
(contoh; tiap 3 jam). Apabila bayi telah mendapatkan minum 160/kgBB per hari
tetapi masih tampak lapar, beri tambahan ASI setiap kali minum.
d) Lanjutkan pemberian minum
menggunakan cangkir/sendok apabila kondisi bayi sudah stabil dan bayi dapat
menelan tanpa batuk atau tersedak
e) Apabila bayi telah mendapatkan minum
baik menggunakan cangkir/sendok, coba untuk menyusui langsung
c. Berat lahir 1250-1499 gram
1) Bayi sehat
a) Beri ASI peras melalui pipa lambung
b) Beri minum 8 kali dalam 24 jam
(contoh; setiap 3 jam). Apabila bayi telah mendapatkan minum 160 ml/kgBB per
hari tetapi masih tampak lapar, beri tambahan ASI setiap kali minum
c) Lanjutkan pemberian minum
mengguanakan cangkir/sendok
d) Apabila bayi telah mendapatkan minum
baik menggunakan cangkir/sendok, coba untuk menyusui langsung
2) Bayi sakit
a) Beri cairan intravena hanya selama
24 jam pertama
b) Beri ASI peras melalui pipa lambung
mulai hari ke-2 dan kurangi jumlah cairan intravena secara perlahan
c) Beri minum 8 kali dalam 24 jam
(setiap 3 jam). Apabila bayi telah mendapatkan minum 160 ml/kgBB per hari
tetapi masih tampak lapar, beri tambahan ASI setiap kali minum
d) Lanjutkan pemberian minum
menggunakan cangkir/sendok
e) Apabila bayi telah mendapatkan minum
baik menggunakan cangkir/sendok, coba untuk menyusui langsung
d. Berat lahir (tidak tergantung
kondisi)
1) Berikan cairan intravena hanya
selama 48 jam pertama
2) Berikan ASI melalui pipa lambung
mulai pada hari ke-3 dan kurangi pemberian cairan intravena secara perlahan
3) Berikan minum 12 kali dalam 24 jam
(setiap 2 jam). Apabila bayi telah mendapatkan minum 160 ml/kgBB perhari tetapi
masih tampak lapar, beri tambahan ASI setiap kali minum
4) Lanjutkan pemberian minum
menggunakan cangkir/sendok
5) Apabila bayi telah mendapatkan minum
baik menggunakan cangkir/sendok, coba untuk menyusui langsung
3. Suportif
Hal
utama yang dilakukan adalah mempertahankan suhu tubuh normal:
a. Membersihkan jalan napas
b. Memotong tali pusat dan perawatan
tali pusat
c. Membersihkan badan bayi dengan kapas
nany oil/minyak
d. Memberikan obat mata
e. Membungkus bayi dengan kain hangat
f. Pengkajian keadaan kesehatan pada
bayi dengan berat badan lahir rendah
g. Mempertahankan suhu tubuh bayi
dengan cara:
h. Membungkus bayi dengan menggunakan
selimut bayi yang dihangatkan terlebih dahulu
i.
Menidurkan bayi di dalam incubator buatan yaitu dapat dibuat
dari keranjang yang pinggirnya diberi penghangat dari buli-buli panas atau
botol yang diisi air panas. Buli-buli panas atau botol-botol ini disimpan dalam
keadaan berdiri tutupnya ada disebelah atas agar tidak tumpah dan tidak
mengakibatkan luka bakar pada bayi. Buli-buli panas atau botol inipun harus
dalam keadaan terbungkus, dapat menggunakan handuk atau kain yang tebal. Bila
air panasnya sudah dingin ganti airnya dengan air panas kembali.
j.
Suhu lingkungan bayi harus dijaga
1) Kamar dapat masuk sinar matahari
2) Jendela dan pintu dalam keadaan
tertutup untuk mengurangi hilangnya panas dari tubuh bayi melalui proses
radiasi dan konveksi
k. Badan bayi harus dalam keadaan
kering
l.
Gunakan salah satu cara menghangatkandan mempertahankan suhu
tubuh bayi, seperti kontak kulit ke kulit, kangaroo mother care, pemancar
panas, incubator atau ruangan hangat yang tersedia di tempat fasilitas
kesehatan setempat sesuai petunjuk
m. Jangan memandikan atau menyentuh
bayi dengan tangan dingin
n. Ukur suhu tubuh dengan berkala
o. Yang juga harus diperhatikan untuk
penatalaksanaan suportif ini adalah:
1) Jaga dan pantau patensi jalan nafas
2) Pantau kecukupan nutrisi, cairan dan
elektrolit
p. Bila terjadi penyulit, harus
dikoreksi dengan segera (contoh; hipotermia, kejang, gangguan nafas,
hiperbilirubinemia)
q. Berikan dukungan emosional pada ibu
dan anggota keluarga lainnya
r.
Anjurkan ibu untuk tetap bersama bayi. Bila tidak
memungkinkan, biarkan ibu berkunjung setiap saat dan siapkan kamar untuk
menyusui
4. Pemantauan (Monitoring)
a. Pemantauan saat dirawat
1) Terapi
a) Bila diperlukan terapi untuk
penyulit tetap diberikan
b) Preparat besi sebagai suplemen mulai
diberikan pada usia 2 minggu
2) Tumbuh kembang
a) Pantau berat badan bayi secara
periodic
b) Bayi akan kehilangan berat badan
selama 7-10 hari pertama (sampai 10% untuk bayi dengan berat lahir ≥1500 gram
dan 15% untuk bayi dengan berat lahir <1500>
c) Bila bayi sudah mendapatkan ASI
secara penuh (pada semua kategori berat lahir) dan telah berusia lebih dari 7
hari:
1. Tingkatkan jumlah ASI dengan 20
ml/kg/hari sampai tercapai jumlah 180 ml/kg/hari
2. Tingkatkan jumlah ASI sesuai dengan
penigkatan berat badan bayi agar jumlah pemberian ASI tetap 180 ml/kg/hari
3. Apabila kenaikan berat badan tidak
adekuat, tingkatkan jumlah pemberian ASI hingga 200 ml/kg/hari
4. Ukur berat badan setiap hari,
panjang badan dan lingkar kepala setiap minggu.
b. Pemantauan setelah pulang
Diperlukan
pemantauan setelah pulang untuk mengetahui perkembangan bayi dan
mencegah/mengurangi kemungkinan untuk terjadinya komplikasi setelah pulang
sebagai berikut:
1) Setelah pulang hari ke-2,10,20,30,
dilanjutkan setiap bulan
2) Hitung umur koreksi
3) Pertumbuhan, berat badan, panjang
badan dan lingkar kepala
4) Tes perkembangan, Denver
development screening test (DDST)
5) Awasi adanya kelainan bawaan
6) Mengajarkan ibu/orang tua cara:
a) Membersihkan jalan napas
b) Mempertahankan suhu tubuh
c) Mencegah terjadinya infeksi
d) Perawatan bayi sehari-hari:
(1) Memandikan
(2) Perawatan tali pusat
(3) Pemberian ASI
7) Menjelaskan pada ibu (orang tua)
a) Pemberian ASI
b) Makanan bergizi bagi ibu
c) Mengikuti program KB segera mungkin
8) Observasi keadaan umum bayi selama 3
hari, apabila tidak ada perubahan atau keadaan umum semakin menurun bayi harus
dirujuk ke rumah sakit. Berikan penjelasan kepada keluarga bahwa anaknya harus
dirujuk ke rumah sakit.
F. DIAGNOSIS
Menegakkan diagnosis BBLR adalah dengan mengukur berat lahir bayi dalam jangka
waktu 1 jam setelah lahir, dapat diketahui dengan dilakukan anamnesis,
pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang.
1. Anamnesis
Riwayat yang perlu ditanyakan pada
ibu dalam anamnesis untuk menegakkan mencari etiologi dan factor-faktor yang
berpengaruh terhadap terjadinya BBLR:
a.
Umur ibu
b. Riwayat hari pertama haid terakhir
c.
Riwayat
persalinan sebelumnya
d. Parietas, jarak kelahiran sebelumnya
e.
Kenaikan
berat badan selama hamil
f.
Aktivitas
g. Penyakit yang diderita selama hamil
h. Obat-obatan yang diminum selama
hamil
2. Pemeriksaan fisik
Yang dapat dijumpai saat pemeriksaan
fisik pada bayi BBLR antara lain:
a. Berat badan
b. Tanda-tanda prematuritas (pada bayi
kurang bulan)
c. Tanda bayi cukup bulan atau lebih
bulan (bila bayi kecil untuk masa kehamilan)
3. Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan penunjang yang dapat
dilakukan antara lain:
a. Pemeriksaan skor ballard
b. Tes kocok (shake test), dianjurkan
untuk bayi kurang bulan
c. Darah rutin, glukosa darah, kalau
perlu dan tersedia fasilitas diperiksa kadar elektrolit dan analisa gas darah
d. Foto dada ataupun babygram
diperlukan pada bayi baru lahir dengan umur kehamilan kurang bulan dimulai pada
umur 8 jam atau didapat/diperkirakan akan terjadi sindrom gawat napas
e. USG kepala terutama pada bayi dengan
umur kehamilan.
G. PENCEGAHAN
Pada kasus bayi berat lahir rendah (BBLR)
pencegahan/preventif adalah langkah yang penting. Hal-hal yang dapat dilakukan:
1. Meningkatkan pemeriksaan kehamilan
secara berkala minimal 4 kali selama kurun kehamilan dan dimulai sejak umur
kehamilan muda. Ibu hamil yang diduga berisiko, terutama factor resiko yang
yang mengarah melahirkan bayi BBLR harus cepat dilaporkan, dipantau dan dirujuk
pada institusi pelayanan kesehatan yang lebih mampu
2. Penyuluhan kesehatan tentang
pertumbuhan dan perkembangan janin dalam rahim, tanda-tanda bahaya selama
kehamilan dan perawatan diri selama kehamilan agar mereka dapat menjaga
kesehatnnya dan janin yang dikandung dengan baik.
3. Hendaknya ibu dapat merencanakan
persalinannya pada kurun umur reproduksi sehat (20-34 tahun)
4. Perlu dukungan sector lain yang
terkait untuk turut berperan dalam meningkatkan pendidikan ibu dan status
ekonomi keluarga agar mereka dapat meningkatkan akses terhadap pemanfaatan
pelayanan antenatal dan status gizi ibu selama hamil.
H. PERAWATAN
Perawatan yang
dilakukan pada bayi BBLR meliputi :
1. Mempertahankan suhu tubuh optimal
2. Mempertahankan oksigenasi
3. Memenuhi kebutuhan nutrisi
4. Mencegah dan mengatasi infeksi
5. Mengatasi hiperbilirubinemia
6. Memenuhi kebutuhan psikologis
7. Melibatkan program imunisasi
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Masa neonatus dan beberapa minggu sesudahnya masih merupakan masa yang
rawan karena disamping kekebalan yang masih kurang juga gejala penyakit
spesifik. Pada periode-periode tersebut tidak dapat dibedakan/sulit dibedakan
dengan penyakit lain sehingga sulit dideteksi pada usia minggu-minggu pertama
kelainanyang timbul banyak yang berkaitan dengan masa kehamilan/proses
persalinan sehingga perlu penanganan segera dan khusus.
Bayi lahir
dengan bayi berat lahir rendah (BBLR) merupakan salah satu factor resiko yang
mempunyai kontribusi terhadap kematian bayi khususnya pada masa perinatal.
Selain itu bayi berat lahir rendah dapat mengalami gangguan mental dan fisik
pada usia tumbuh kembang selanjutnya, sehingga membutahkan biaya perawatan yang
tinggi.
B. Saran
1. Meningkatkan pengawasan pada bayi baru lahir dengan BBLR.
2. Menambah informasi dan pengetahuan tentang asuhan kebidanan pada bayi baru
lahir dengan BBLR.
3. Meningkatkan pelayanan pada bayi baru lahir dengan BBLR.
DAFTAR PUSTAKA
Pantiawati,
ika,S.sit.2010.Bayi dengan BBLR.yogyakarta:nuha
medika.
Proverati
atikah,SKM, MPH dan cahyo ismawati sulistyorini,S.Kep.,Ns.2010.BBLR (Berat Badan Lahir Rendah).yogyakarta:nuha
medika.
Rukiyah, Ai
Yeyeh
dan Lia Yulianti,am.keb.MKM.2010.asuhan neonates,bayi dan anak
balita.jakarta:trans info media.
http://kuliahperawat.wordpress.com/2008/07/16/bayi-berat-lahir-rendah-bblr/diunduh
hari jumat tanggal 1 bulan mei jam 08.30
No comments:
Post a Comment