MAKALAH TENTANG LABIOPALATOSKISIS
![]() |
KELOMPOK
3
Oleh :
Makalah ini Disusun Untuk Memenuhi Tugas
Mata Kuliah KEPERAWATAN ANAK 1
Dosen pembimbing : dr. Rafika
Heradatul Hasanah
Aprillia Nur Kahalifa
Dayu Lischa Sadana
PRODI DIII KEPERAWATAN
U N I V E R S I T A S B O
N D O W O S O
2015
KATA PENGANTAR
Segala puji bagi Allah YME karena dengan rahmat dan
hidayahnyalah kita semua dalam keadaan sehat walafiat,sholawat serta salam
selalu tercurah limpahkan kepada nabi besar Muhammad SAW,karena beliaulah yang
membawa kita dari jaman kegelapan menuju jaman terang benderang seperti yang
saat ini kita rasakan.
Ucapan terimakasih juga penulis ucapkan kepada :
1. Yuana
Dwi Agustin, S.KM, M.Kes selaku kepala prodi DIII keperawatan Universitas
Bondowoso
2. dr.Rafika selaku dosen pembimbing
3. Dan
semua pihak yang membantu dalam penyusunan makalah ini
penulis sadar bahwa makalah yang kami susun ini masih
banyak kesalahan dan kekurangan oleh karna itu penulis mengharapkan kritik dan
saran yang membangun agar penulis dapat menjadi lebih baik
Bondowoso,22 Mei 2015
Penulis
BAB
1
PENDAHULUAN
A.
LATAR BELAKANG
Kasus bibir sumbing dan celah
langit-langit merupakan cacat bawaan yang masih menjadi masalah di tengah masyarakat. Di lakukan penelitian
pada 126 penderita yang di lakukan operasi secara gratis pada bayi, anak maupun
dewasa.
Pada dasarnya kelainan bawaan dapat
terjadi pada mulut, yang biasa di sebut labio palato schisis. Kelainan di duga
terjadi akibat infeksi virus yang di derita ibu pada kehamilan trimester 1.
jika hanya terjadi sumbing pada bibir, bayi tidak akan banyak mengalami
gangguan karena masih dapat diberi minum dengan dot biasa. Bayi dapat mengisap
dot dengan baik asal dotnya diletakan di bagian bibir yang tidak sumbing.
Kelaianan bibir ini dapat segera di
perbaiki dengan pembedahan. Bila sumbing mencakup pula palatum mole / palatum
durum, bayi akan mengalami kesukaran minum, walau[pun bayi dapat mengisap namun
bahaya tersedak mengancam. Bayi dengan kelainan bawaan ini akan mengalami
gangguan pertumbuhan karena sering menderita infeksi saluran pernapasan akibat
aspirasi. Keadan umur yang kurang baik juga akan menunda tindakan untuk
memperbaiki kelainan tersebut.
BAB 11
TINJAUAN TEORITIS
1.1
Pengertian
Ø Labio palato schisis adalah malformasi yang disebabkan oleh gagalnya
prosesus nasal median dan maksilaris untuk menyatu selama perkembangan
embrionik (kapita selekta,jilid 2 ).
Ø Labio palato schisis adalah isura garis tengah pada palatum yang
terjadi karena kegagalan dua sisi untuk menyatu selama perkembangan embrionik.
(www geogle.com)
Labiopalatoskisis adalah
kelainan kongenital pada bibir dan langit-langit yang dapat terjadi secara
terpisah atau bersamaan yang disebabkan oleh kegagalan atau penyatuan struktur
fasial embrionik yang tidak lengkap. Kelainan ini cenderung bersifat diturunkan
(hereditary), tetapi dapat terjadi akibat faktor non-genetik. Palatoskisis adalah adanya celah pada garis tengah palato yang disebabkan oleh kegagalan
penyatuan susunan palato pada masa kehamilan 7-12 minggu. Komplikasi potensial
meliputi infeksi, otitis media, dan kehilangan pendengaran.
1.2 Klasifikasi
Berdasarkan organ terlihat :
§ Celah bibir (labioschisis)
§ Celah gusi (gratoschisis)
§ Langit-langit ( palatoschisis
)
Tingkat kelahiran biasa bervariasi
mulai dari ringan sampai parah (celah bias sampai hidung).
Beberapa jenis bibir sumbing yang di ketahui yaitu :
1. Unilateral Inkomplete
Apabila celah sumbing terjadi hanya di
salah satu sisi bibir dan tidak memanjang hingga ke hidung.
2.
Unilateral Complete
Apabila celah sumbing terjadi di kedua
sisi bibir dan memanjang hingga ke hidung.
3.
Bilateral Complete
Apabila celah sumbing terjadi di ke dua
sisi bibir dan memanjang hingga ke hidung.
3
1.3 Etiologi
Belum di ketahui pasti. Hipotesis yang di ajukan antara lain :
a)Insufisiensi zat untuk tumbuh kembang
organ selama embrional dalam hal kuatitas (pada gangguan sirkulasi feto-maternal)
dan kualitas (defisiensi asam folat, vitamin C dan zn).
b) Pengaruh obat teratologik, termasuk jamu
dan kontrasepsi hormonal.
c)Infeksi,khususnya viral ( toksoplasma
) dan klamidal
d) Faktor genetik
e)Kelainan ini juga diduga terjadi akibat
lnfeksi virus yang di derita ibu pada kehamilan trimester pertama.
1.4 Pathofisiologi
Cacat terbentuk pada trimester
pertama kehamilan, prosesnya karena tidak terbentuknya mesoderm pada daerah
tersebut sehingga kembali juga oleh
beberapa etiologi.prosesnya karena kegagalan fusi palatum pada garis tengah dan
kegagalan fusi dengan septum nasi.
1.5
PATWAY
Insufisiensi zat toksikosis
selama infeksi genetik
![]() |
Kegagalan fungsi palatum
kegagalan fungsi palatum
![]() |
|||
refleks mengisap Asi, yang bayi rewel, adanya sumbing adanya disfungsi adanya
terganggu akibat adanya menangis, pada
bibir dan tuba eustachi gangguan
patologis, pucat, turgor
kulit tidak dapat palatum yang dapat me- pertumbuhan
kembung, BB menurun. Dengan tenang, jadinya otitis
faring, adanya
sulit mengisap gangguan pada daerah
dan
menelan Asi
resti pendengaran, mulut.
sisi pembedahan kurang me-
Perubahan nutrisi kurang resti trauma sisi
nerima,sensitif,
dari kebutuhan tubuh pembedahan adanya
sumbing gangguan rasa
pada
bibir dan nyaman nyeri
palatum.
Resti perubahan
Menjadi orangtua
Referensi :
1. Ngastinya. 2005. Perawatan anak sakit
edisi 2. Jakarta : EGC
2. Doengoes Marlin. 2001. Rencana Asuhan
Keperawatan, Jakarta : EGC
5
a)Refleks mengisap Asi yang terganggu,
akibat adanya kondisi pathologis
b) Adanya gangguan pertumbuhan anatomi
nasofaring
c)Adanya disfungsi tuba eustachius yang
dapat mengakibatkan terjadinya otitis media, serta gangguan pendengaran.
1.6
Penatalaksanaan
Ø Keperawatan
-
Masalah
yang dapat terjadi adalah resiko tersedak
-
Ibu
harus dilatih untuk memberikan Asi, yang harus diberikan secara hati – hati dan
sering beristirahat jika tetap mengalami kesukaran. Asi dapat di pompa dan
diberikan dengan sedotan sedikit – sedikit. Perhatikan agar pompa payudara dan
gelas penampung Asi selalu diseduh agar tidak terjadi terkontaminasi.
Ø Medis
-
Tindakan
operasi pertama di kerjakan untuk menutup celah bibir berdasarkan kriteria tube
of ten yaitu umur > 10 minggu (3 bulan) > 10 pon (5 kg), > 10 gr/dl,
leukosit > 10.000/ui.
-
Tindakan
operasi selanjutnya adalah menutup langitan (palatolasti0. di kerjakan sedini
mungkin (15-24bulan) sebelum anak mampu bicara lengkap sehingga pusat bicara di
otak belum membentuk cara bicara.
-
Setelah
operasi, anak dapat belajar dari orang lain atau melakukan spech therapist
untuk melatih atau mengajar anak bicara dengan normal.
-
Pada
umur 8-9 tahun dilakukan operasi penambahan tulang pada celah alveolus /
maksila untuk memungkinkan ablioefodenti mengatur pertumbuhan gigi di
kanan-kiri celah supaya normal.
Ø Pencegahan infeksi.
§ Menaati praktek pencegahan infeksi
terutama kebersihan tangan serta
memakai sarung tangan.
§ Memperhatikan dengan seksam proses yang
telah terbukti bermanfaat untuk dekontaminasi dan pencucian peralatan dan benda
kotor,ikuti dengan sterilisasi dan desinfeksi tingkat tinggi.
§ Selalu memoerhatikan teknik aseptik
sewaktu melakukan tindakan yang bersifat infasif seperti : suction
endotracheal,melakukan penyuntikan obat-obat pada akses perifer maupun vena
central, pemasangan kateter urine,dll.
1.7 KONSEP DASAR ASKEP
1.
Pengkajian
b) Biodata pasien dan biodata penanggung
jawab
c) Riwayat kesehatan masa lalu
Pasien
menderita insufisiensi zat untuk tumbuh kembang organ selama masa embrional.
d) Riwayat kesehatan sekarang
Pengaruh
obat tetatologik termasuk jamu dan kontrasepsi hormonal,kecanduan alkohol.
e) Riwayat keluarga
Anggota keluarga ada yang bibir sumbing.
f)
Pemeriksaan Fisik
1
Mata
·
Keadaan konjungtiva
·
Keadaan sclera
·
Keadaan lensa
2 Hidung
·
Kemampuan penglihatankepekaan
penciuman
·
Adanya
polip/hambatan lain pada hidung, adanya pilek.
3
Mulut dan Bibir
·
Warna
bibir
·
Apakah
ada luka
·
Apakah
ada kelainan
4 Leher
·
Keadaan
vena jugularis
·
Apakah
ada pembesaran kelenjar.
5
Telinga
·
Bentuk
telinga
·
Kepekaan
pendengaran
·
Kebersihan
telinga
6
Dada
·
Bentuk
dan irama napas
·
Keadaan
jantung dan paru-paru
7
Abdomen
·
Ada
kelainan atau tidak
·
Bentuknya
supel atau tidak
8
Genitalia
· Kebersihan daerah genetalia
· Ada edema atau tidak
· Keadaan alat genetalia
9 Ekstermitas atas dan bawah
·
Bentuknya
normal atau tidak
·
Tonus
otot kuat atau lemah
10 Kulit
·
Warna
kulit
·
Turgor
kulit
g) Pengkajian Perpola
a.
Aktivitas
/ istirahat
·
Sulit
mengisap Asi
·
Sulit
menelan Asi
·
Bayi
rewel,menangis
·
Tidak
dapat beristirahat dengan tenang dan nyaman
b.
Sirkulasi
·
Pucat
·
Turgor
kulit jelek
c.
Makanan
/ cairan
·
Berat
badan menurun
·
Perut
kembung
·
Turgor
kulit jelek, kulit kering
d.
Neurosensori
·
Adanya
trauma psikologi pada orang tua
·
Adanya
sifat kurang menerima, sensitif
e.
Nyaman
/ nyeri
·
Adanya
resiko tersedak
·
Disfungsi
tuba eustachi
·
Adanya
garis jahitan pada daerah mulut
Tabulasi Data
Sulit mengisap Asi, sulit menelan Asi, bayi rewel,menangis,tidak dapat
beristirahat dengan tenang dan nyaman, pucat,turgor kulit jelek, berat badan
menurun, perut kembung, kulit kering, adanya trauma psikologi pada orang
tua,danya sifat menerima sensitif, adanya resiko tersedak, disfungsi tuba
eustachi,adanya garis jahitan pada daerah mulut, adanya sumbing bibir dan
sumbing palatum.
Klasifikasi Data
DS : sulit mengisap Asi, sulit menelan Asi,
bayi rewel, menangis, tidak dapat beristirahat dengan tenang dan nyaman.
DO : pucat,
turgor kulit jelek, bert badan menurun, perut kembung, kulit kering, adanya
trauma psikologi padaa orang tua, adanya siat kurang menerima, sensitif, adanya
esiko tersedak, disfungsi tuba eustachi, adanya garis jahitan pada daerah
mulut, adanya sumbing bibir dan sumbing palatum. 9
Analisa Data
|
No
|
Symptom
|
Etiologi
|
Problem
|
|
1
|
Pre op
DS : sulit mengisap dan menelan Asi.
DO: pucat, turgor kulit jelek, kulit kering,
perut kembung,BB menurun
|
Defek fisik
|
Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan
tubuh
|
|
2
|
DS: -
DO: adanya trauma psikologi
pada orang tua, adanya sifat kurang menerima, sensitif, adanya sumbing pada
bibir dan palatum
|
Bayi dengan defek fisisk yang sangat
terlihat
|
Resiko tinggi perubahan menjadi orang
tua
|
|
3
|
DS: bayi rewel, menangis, tidak dapat
beristirahat dengan tenang dan nyaman, sulit mengisao dan menelan Asi.
DO: adanya garis jahitan pada daerah mulut
|
Prosedur pembedahan, disfungsi menelan
|
Resiko tinggi trauma sisi pembedan
|
|
4
|
Post op
DS: bayi rewel,menangis
DO: adanya garis jahitan
pada daerah mulut
|
Insisi bedah
|
Gangguan
|
|
5
|
DS : -
DO : adanya luka operasi
tertutup kasa
|
Terpaparnya lingkungan dan prosedur
invasi
|
Resti infeksi
|
PRIORITAS MASALAH
Ø PRE OP
: - Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
- resti perubahan menjadi orang tua
-
resti
trauma sisi pembedahan
Ø POST OP :
- gangguan rasa nyaman nyeri
- resti infeksi
DIAGNOSA KEPERAWATAN
Ø PRE OP
a. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan
tubuh b/d defek fisik yang di tandai dengan :
DS : Sulit mengisap dan menelan Asi
DO : Pucat, turgor kulit jelek, kulit
kering,perut kembung, BB menurun
b. Resiko tinggi perubahan menjadi orang tua
b/d bayi dengan defek fisik yang sangat terlihat yang di tandai dengan :
DS : -
DO : Adanya
trauma psikologipada orang tua, adanya sifat kurang menerima, sensitif, adanya
sumbing pada bibir dan palatum
c. Resiko tinggi trauma sisi pembedahan b/d
prosedur pembedahan, disfungsi menelan, yang di tandai dengan :
DS : Bayi
rewel, menangis, tidak dapat beristirahat dengan tenang dan nyaman, sulit
mengisap dan menelan Asi.
DO : adanya garis jahitan pada daerah
mulut
Ø POST OP
d. gangguan rasa nyaman nyeri b/d insisi
bedah yang di tandai dengan :
DS :
Bayi rewel, menangis
DO :
Adanya garis jahitan pada daerah mulut
e. resti infeksi b/d terpaparnya linkungan
dan prosedur invasi, yang di tandai dengan :
DS : -
DO : Adanya luka operasi tertutup kasa
|
No
1
|
Diagnosa Keperawatan
|
Rencana Keperawatan
|
||
|
Tujuan
|
Intervensi
|
Rasional
|
||
|
Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubah b/d defek fisik yang di
tandai :
DS: Sulit mengisap
dan menelan Asi
DO: Pucat, turgor kulit
jelek,kulit kering, perut kembung, BB menurun
|
Setelah mendapatkan tindakan keperawatan di harapkan perubahan nutrisi
dapat teratasi dengan kriteria :
· tidak pucat
· turgor kulit membaik
· kulit lembab, perut tidak kembung
· bayi
menunjukan penambahan berat badan yang tepat.
|
1. Bantu ibu dalam
menyusui, bila ini adalah keinginan ibu. Posisikan dan stabilkan puting susu
dengan baik di dalam rongga mulut.
2. Bantu menstimulasi
refleks ejeksi Asi secara manual / dengan pompa payudara sebelum menyusui
3. Gunakan alat makan
khusus, bila menggunakan alat tanpa puting. (dot, spuit asepto) letakan
formula di belakang lidah
4. Melatih ibu untuk
memberikan Asi yang baik bagi bayinya
5. Menganjurkan ibu untuk
tetap menjaga kebersihan, apabila di pulangkan
6. kolborasi dengan ahli
gizi.
|
1. Membantu ibu dalam
memberikan Asi dan posisi puting yang stabil membentuk kerja lidah dalam
pemerasan susu.
2. Karena pengisapan di
perlukan untuk menstimulasi susu yang pada awalnya mungkin tidak ada
3. Membantu kesulitan
makan bayi, mempermudah menelan da mencegah aspirasi
4. Mempermudah dalam
pemberian Asi
5. Untuk mencegah
terjadinya mikroorganisme yang masuk
6. Untuk mendapatkan
nutrisi yang seimbang
|
|
11
|
No
2
|
Diagnosa Keperawatan
|
Rencana Keperawatan
|
||
|
Tujuan
|
Intervensi
|
Rasional
|
||
|
Cemas / resiko tinggi perubahan menjadi orang tua b/d bayi dengan defek
fisik yang sangat terlihat, yang di tandai dengan :
DS : -
DO : Adanya trauma
psikologi pada orang tua, adanya sifat kurang menerima, sensitif, adanya
sumbing pada bibir dan palatum
|
Setelah mendapatkan tindakan keperawatan di harapkan resti perubahan
menjadi orang tua tidak terjadi dengan kriteria :
· pasien dan keluarga menunjukan
penerimaan terhadap bayi
· keluarga mendiskusikan perasaan dan
kekhawatiran mengenai defek anak, perbaikannyadan proses masa depan
|
1. Berikan kesempatan
untuk mengekspresikan perasaan
2. tunjukan sikap
penerimaan terhadap bayi dan keluarga
3. tunjukan dengan
perilaku bahwa anak adalah manusia yang berharga
4. gambarkan hasil
perbaikan bedah terhadap defek,gunakan foto hasil yang memuaskan
5. anjurkan pertemuan
dengan orang tua lain yang mempunyai pengalaman serupa dan dapat
menghadapinya dengan baik.
6. menganjurkan orangtua
untuk selalu menjaga kesehatan bayinya
|
1. Mendorong koping
keluarga
2. Meredam sikap sensitif
orangtua terhadap sikap sensitif orang lain
3. Mendorong penerimaan terhadap bayi
4. Untuk mendorong adanya pengharapan
5. Membantu orangtua mendiskusikan
kekhawatirannya, berbagi pengalaman swehingga timbulnya sifat menerima
terhadap bayi
6. Untuk mencegah terjadinya defek pada bayi
|
|
|
No
3
|
Diagnosa Keperawatan
|
Rencana Keperawatan
|
||
|
Tujuan
|
Intervensi
|
Rasional
|
||
|
Resiko tinggi
trauma sisi pembedahan b/d prosedur pembedahan, disfungsi menelan, yang di
tandai dengan :
DS : Bayi rewel, menangis,tidak dapat
beristirahat dengan tenang dan nyaman, sulit mengisap dan menelan Asi.
DO : adanya garis jahitan
pada daerah mulut
|
Setelah mendapatkan tindakan keperawatan di harapkan trauma sisi
pembedahan tidak terjadi dengan kriteria :
· bayi
tidak rewel dan menangis
· Bayi dapat beristirahat dengan tenang
dan nyaman, dapat menelan Asi denagan baik.
|
1. Beri posisi leher yang
miring atau duduk
2. Pertahankan alat pelindung bibir. Gunakan teknik pemberian
makan nontraumatik.
3. Gunakan paket restrain
pada bayi
4. Hindarkan menempatkan
objek di dalam mulut setelah perbaikan kateter mengisap. Spatel lidah sedalam
dot atau pendek kecil.
5. Jaga agar bayi tidak
menangis dengan jelas dan terus menerus
6. Bersihkan garis jahitan
dengan perlahan setelah memberi makan dan jika perlu sesuai instruksi dokter
7. Ajar tentang
pembersihan dan prosedur restrain khususnya bila bila bayi akan di pulangkan
sebelum jahitan di lepas.
|
1. Mencegah trauma pada
sisi operasi
2. Melindungi garis
jahitan dan meminimalkan resiko trauma.
3. Mencegahnya agr tidak
berulang dan menggaruk wajahnya
4. Mencegah trauma pada
sisi operasi
5. Menangis dapat
menyebabkan tegangan pada jahitan
6. Mencegah terjadinya
infeksi dan inflamasi yang mempengaruhi penyembuhan
7. Meminimalkan terjadinya
komplikasi setelah pulang.
|
|
|
No
4
|
Diagnosa Keperawatan
|
Rencana Keperawatan
|
||
|
Tujuan
|
Intervensi
|
Rasional
|
||
|
gangguan rasa
nyaman nyeri b/d insisi bedah yang di tandai dengan :
DS
: Bayi rewel dan menangis
DO : Adanya
garis jahitan pada daerah mulut
|
Setelah mendapatkan tindakan keperawatan di harapkan masalah nyeri dapat
terkontrol dengan kriteria :
· Bayi
tidak rewel
· Tidak menangis
· Bayi mengalami tingkat kenyamana yang
optimal
· Bayi tampak nyaman dan istirahat dengan
tenang.
|
Observasi
1. Kaji tanda-tanda vital,
perhatikan tackikardi dan peningkatan pernapasan.
2. Kaji penyebab
ketidaknyamanan yang mungkin selain dari prosedur operasi
3. Kaji skala nyeri, catat
lokasi, intensitas nyeri
Mandiri
4. Anjurkan keluarga untuk
melakukan masase
ringan
Penkes
5. Jelaskan orangtua atau
keluarga untuk terlibat dalam perawatan bayi
6. Kolaborasi, berikan
analgesik / sedatif sesuai instruksi.
|
1. Dapat
menidentifikasikan rasa sakit akut dan ketidak nyamanan
2. Ketidak nyamanan
mungkin di sebabkan oleh adanya proses inflamasi
3. Membantu mengetahui
derajat ketidak nyamana dan keefektifan analgesik sehingga memudah dalam
memberi tindakan
4. Mengurangi rasa nyeri
5. Memberi rasa aman dan
nyaman
6. Analgesik menelan SSP
yang memberi respon pada observasi nyeri
|
|
|
No
5
|
Diagnosa Keperawatan
|
Rencana Keperawatan
|
||
|
Tujuan
|
Intervensi
|
Rasional
|
||
|
Resti infeksi b/d terpaparnya lingkungan dan prosedur invasi yang di
tandai dengan :
DS : -
DO : Adanya luka operasi
tertutup kasa
|
Setelah mendapatkan tindakan keperawatan diharapkan masalah resti infeksi
tidak terjadi dengan kriteria :
- luka sembuh dan tidak tertutup kasa
|
Observasi
1. Kaji tanda-tanda vital.
2. Kaji tanda-tanda infeksi
Mandiri
3. Jaga area kesterilan
luka operasi
4. Lakukan aseptik dan
desinfeksidalam perawatan luka
5. Cuci tangan sebelum dan
sesudah melakukan tindakan perawatan luka.
Penkes
6. Menjelaskan kepada
keluarga untuk menciptakan lingkungan yang bersih dan bebas dari kontaminasi
dari luar
7. Menjelaskan kepada
keluarga untuk menjaga kebersihan luka
Kolaborasi
8. Kolaborasi dengan medis
untuk pemberian obat yang sesuai
(antibiotik )
|
1. Menentukan intervensi
selanjutnya.
2. Membantu tindakan yang
tepat
3. Mencegah dan mengurangi
transmisi kuman
4. Mencegah kontaminasi
patogen
5. Melindungi dari sumber
infeksi, mencegah infeksi silang
6. Mengurangi kontaminasi
pasien dari agen infeksius
7. Menjaga kesterilan luka
8. Membantu mencegah
infeksi.
|
|
2
BAB III
PENUTUP
A.
KESIMPULAN
Labio palato schisis merupakan kongenital
anamali yang berupa adanya kelainan bentuk pada stuktur wajah. Kelainan sumbing
selain mengenai bibir juga bisa mengenai langit-langit. Berbeda pada kelainan
bibir yang terlihat secara estefik, kelainan sumbing langit-langit lebih
berefek kepada fungsi mulut seperti menelan, makan,minum dan bicara. Keadaan
ini menyebabkan intake minum / makanan yang masuk menjadi kurang dan jelas
berefek terhadap pertumbuhan dan perkembangannya, selanjutnya mudah terkena
infeksi saluran nafas atas ksrena terbukanya palatum tidak ada batas antara
hidung dan mulut, bahkan infeksi bisa menyebar sampai ke telinga.
B.
SARAN
1. Bagi perawat
Agar
dapat memberi ASKEP pada klien labio palato schisis melalui pendekatan proses
keperawatan semaksimal mungkin
2. Bagi masyarakat
Agar
selalu memperhatikan kesehatan diri dan lingkungan apabila di temukan tanda dan
gejala labio palati schisis, maka segera memeriksakan diri ke fasilitas
kesehatan terdekat sehingga dapat di obati segera.
DAFTAR PUSTAKA
Mansjoer Arif.2001.Kapita selekta kedokteran,edisi
ketiga jilid I.
Jakarta:EGC
Dongoes Marylin.1999.Rencana Asuhan
Keperawatan.Jakarta:EGC
WWW.geogle.com



No comments:
Post a Comment