Friday, October 9, 2015

HERADATUL H. : LABIOPALATOKISIS



MAKALAH TENTANG LABIOPALATOSKISIS




 













KELOMPOK 3
Oleh :
Makalah ini Disusun Untuk Memenuhi Tugas
Mata Kuliah KEPERAWATAN ANAK 1
Dosen pembimbing : dr. Rafika

Heradatul Hasanah
     Aprillia Nur Kahalifa
    Dayu Lischa Sadana


PRODI DIII KEPERAWATAN
U N I V E R S I T A S B O N D O W O S O
2015

KATA PENGANTAR
Segala puji bagi Allah YME karena dengan rahmat dan hidayahnyalah kita semua dalam keadaan sehat walafiat,sholawat serta salam selalu tercurah limpahkan kepada nabi besar Muhammad SAW,karena beliaulah yang membawa kita dari jaman kegelapan menuju jaman terang benderang seperti yang saat ini kita rasakan.
Ucapan terimakasih juga penulis ucapkan kepada :
1.      Yuana Dwi Agustin, S.KM, M.Kes selaku kepala prodi DIII keperawatan Universitas Bondowoso
2.      dr.Rafika selaku dosen pembimbing
3.      Dan semua pihak yang membantu dalam penyusunan makalah ini
penulis sadar bahwa makalah yang kami susun ini masih banyak kesalahan dan kekurangan oleh karna itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun agar penulis dapat menjadi lebih baik





Bondowoso,22 Mei 2015

                                                           


Penulis







                  BAB 1
                                                               PENDAHULUAN

A.    LATAR BELAKANG

          Kasus bibir sumbing dan celah langit-langit merupakan cacat bawaan yang masih menjadi masalah  di tengah masyarakat. Di lakukan penelitian pada 126 penderita yang di lakukan operasi secara gratis pada bayi, anak maupun dewasa.
           Pada dasarnya kelainan bawaan dapat terjadi pada mulut, yang biasa di sebut labio palato schisis. Kelainan di duga terjadi akibat infeksi virus yang di derita ibu pada kehamilan trimester 1. jika hanya terjadi sumbing pada bibir, bayi tidak akan banyak mengalami gangguan karena masih dapat diberi minum dengan dot biasa. Bayi dapat mengisap dot dengan baik asal dotnya diletakan di bagian bibir yang tidak sumbing.
           Kelaianan bibir ini dapat segera di perbaiki dengan pembedahan. Bila sumbing mencakup pula palatum mole / palatum durum, bayi akan mengalami kesukaran minum, walau[pun bayi dapat mengisap namun bahaya tersedak mengancam. Bayi dengan kelainan bawaan ini akan mengalami gangguan pertumbuhan karena sering menderita infeksi saluran pernapasan akibat aspirasi. Keadan umur yang kurang baik juga akan menunda tindakan untuk memperbaiki kelainan tersebut.






























BAB 11
TINJAUAN TEORITIS


1.1  Pengertian

Ø  Labio palato schisis adalah malformasi yang disebabkan oleh gagalnya prosesus nasal median dan maksilaris untuk menyatu selama perkembangan embrionik (kapita selekta,jilid 2 ).
Ø  Labio palato schisis adalah isura garis tengah pada palatum yang terjadi karena kegagalan dua sisi untuk menyatu selama perkembangan embrionik.
(www geogle.com)

Labiopalatoskisis adalah kelainan kongenital pada bibir dan langit-langit yang dapat terjadi secara terpisah atau bersamaan yang disebabkan oleh kegagalan atau penyatuan struktur fasial embrionik yang tidak lengkap. Kelainan ini cenderung bersifat diturunkan (hereditary), tetapi dapat terjadi akibat faktor non-genetik. Palatoskisis  adalah adanya celah pada garis  tengah palato yang disebabkan oleh kegagalan penyatuan susunan palato pada masa kehamilan 7-12 minggu. Komplikasi potensial meliputi infeksi, otitis media, dan kehilangan pendengaran.

 1.2 Klasifikasi

Berdasarkan organ terlihat :
§  Celah bibir (labioschisis)
§  Celah gusi  (gratoschisis)
§  Langit-langit ( palatoschisis )




            Tingkat kelahiran biasa bervariasi mulai dari ringan sampai parah (celah bias sampai hidung).
Beberapa jenis bibir sumbing yang di ketahui yaitu :
1.      Unilateral Inkomplete
      Apabila celah sumbing terjadi hanya di salah satu sisi bibir dan tidak memanjang hingga ke hidung.
2.      Unilateral Complete
      Apabila celah sumbing terjadi di kedua sisi bibir dan memanjang hingga ke hidung.
3.      Bilateral Complete

      Apabila celah sumbing terjadi di ke dua sisi bibir dan memanjang hingga ke hidung.

3

1.3   Etiologi

Belum di ketahui pasti. Hipotesis yang di ajukan antara lain :
a)Insufisiensi zat untuk tumbuh kembang organ selama embrional dalam hal kuatitas (pada gangguan sirkulasi feto-maternal) dan kualitas (defisiensi asam folat, vitamin C dan zn).
b)      Pengaruh obat teratologik, termasuk jamu dan kontrasepsi hormonal.
c)Infeksi,khususnya viral ( toksoplasma )  dan klamidal
d)     Faktor genetik
e)Kelainan ini juga diduga terjadi akibat lnfeksi virus yang di derita ibu pada kehamilan trimester pertama.






1.4   Pathofisiologi
            Cacat terbentuk pada trimester pertama kehamilan, prosesnya karena tidak terbentuknya mesoderm pada daerah tersebut sehingga kembali  juga oleh beberapa etiologi.prosesnya karena kegagalan fusi palatum pada garis tengah dan kegagalan fusi dengan septum nasi.








































    1.5   PATWAY


Insufisiensi zat                                     toksikosis selama             infeksi       genetik
Untuk tumbuh kembang                           kehamilan 
     

                 


 




Kegagalan fungsi palatum                                                            kegagalan fungsi palatum   
Pada garis tengah                                                                           dengan septum nasi        








 



refleks mengisap Asi, yang       bayi rewel,            adanya sumbing   adanya disfungsi   adanya
terganggu akibat adanya           menangis,              pada bibir dan       tuba eustachi        gangguan
patologis, pucat, turgor kulit     tidak dapat            palatum                  yang dapat me-    pertumbuhan
jelek, kulit kering, perut            beristirahat                                          ngakibatkan ter-  anatomi naso
kembung, BB menurun.            Dengan tenang,                                   jadinya otitis       faring, adanya
                                         dan nyaman,                                        media serta          garis jahitan
                                         sulit mengisap                                     gangguan              pada daerah                    
                                         dan menelan Asi           resti                pendengaran,        mulut.
                                                                                     trauma             adanya sifat              
                                                              sisi pembedahan     kurang me-
Perubahan nutrisi kurang           resti trauma sisi                                   nerima,sensitif,                                  
dari kebutuhan tubuh                 pembedahan                                        adanya sumbing    gangguan rasa
                                                                                                  pada bibir dan       nyaman nyeri                                                       
                                                                                                  palatum.              


 


                                                                                                           Resti perubahan
                                                                                                             Menjadi orangtua

 Referensi :
1.      Ngastinya. 2005. Perawatan anak sakit edisi 2. Jakarta : EGC
2.      Doengoes Marlin. 2001. Rencana Asuhan Keperawatan, Jakarta : EGC
 







5

1.5  Manifestasi Klinis
a)Refleks mengisap Asi yang terganggu, akibat adanya kondisi pathologis
b)      Adanya gangguan pertumbuhan anatomi nasofaring
c)Adanya disfungsi tuba eustachius yang dapat mengakibatkan terjadinya otitis media, serta gangguan pendengaran.

1.6     Penatalaksanaan
Ø  Keperawatan
-          Masalah yang dapat terjadi adalah resiko tersedak
-          Ibu harus dilatih untuk memberikan Asi, yang harus diberikan secara hati – hati dan sering beristirahat jika tetap mengalami kesukaran. Asi dapat di pompa dan diberikan dengan sedotan sedikit – sedikit. Perhatikan agar pompa payudara dan gelas penampung Asi selalu diseduh agar tidak terjadi terkontaminasi.
Ø  Medis
-          Tindakan operasi pertama di kerjakan untuk menutup celah bibir berdasarkan kriteria tube of ten yaitu umur > 10 minggu (3 bulan) > 10 pon (5 kg), > 10 gr/dl, leukosit > 10.000/ui.
-          Tindakan operasi selanjutnya adalah menutup langitan (palatolasti0. di kerjakan sedini mungkin (15-24bulan) sebelum anak mampu bicara lengkap sehingga pusat bicara di otak belum membentuk cara bicara.
-          Setelah operasi, anak dapat belajar dari orang lain atau melakukan spech therapist untuk melatih atau mengajar anak bicara dengan normal.
-          Pada umur 8-9 tahun dilakukan operasi penambahan tulang pada celah alveolus / maksila untuk memungkinkan ablioefodenti mengatur pertumbuhan gigi di kanan-kiri celah supaya normal.




Ø  Pencegahan infeksi.
§  Menaati praktek pencegahan infeksi terutama kebersihan tangan serta     memakai sarung tangan.
§  Memperhatikan dengan seksam proses yang telah terbukti bermanfaat untuk dekontaminasi dan pencucian peralatan dan benda kotor,ikuti dengan sterilisasi dan desinfeksi tingkat tinggi.
§  Selalu memoerhatikan teknik aseptik sewaktu melakukan tindakan yang bersifat infasif seperti : suction endotracheal,melakukan penyuntikan obat-obat pada akses perifer maupun vena central, pemasangan kateter urine,dll.

1.7      KONSEP DASAR ASKEP
 1. Pengkajian
b)      Biodata pasien dan biodata penanggung jawab
c)      Riwayat kesehatan masa lalu
Pasien menderita insufisiensi zat untuk tumbuh kembang organ selama masa embrional.
d)     Riwayat kesehatan sekarang
Pengaruh obat tetatologik termasuk jamu dan kontrasepsi hormonal,kecanduan alkohol.
e)      Riwayat keluarga
Anggota keluarga ada yang bibir sumbing.
f)       Pemeriksaan Fisik 
1    Mata
·         Keadaan konjungtiva
·         Keadaan sclera
·         Keadaan lensa
2   Hidung
·         Kemampuan penglihatankepekaan penciuman
·         Adanya polip/hambatan lain pada hidung, adanya pilek.

3   Mulut dan Bibir
·         Warna bibir
·         Apakah ada luka
·         Apakah ada kelainan
4   Leher
·         Keadaan vena jugularis
·         Apakah ada pembesaran kelenjar.
5   Telinga
·         Bentuk telinga
·         Kepekaan pendengaran
·         Kebersihan telinga
6   Dada
·         Bentuk dan irama napas
·         Keadaan jantung dan paru-paru
7        Abdomen
·         Ada kelainan atau tidak
·         Bentuknya supel atau tidak
8        Genitalia
·       Kebersihan daerah genetalia
·       Ada edema atau tidak
·       Keadaan alat genetalia
9   Ekstermitas atas dan bawah
·         Bentuknya normal atau tidak
·         Tonus otot kuat atau lemah
10  Kulit
·         Warna kulit
·         Turgor kulit



g)         Pengkajian Perpola
a.                    Aktivitas / istirahat
·         Sulit mengisap Asi
·         Sulit menelan Asi
·         Bayi rewel,menangis
·         Tidak dapat beristirahat dengan tenang dan nyaman
b.                   Sirkulasi
·         Pucat
·         Turgor kulit jelek
c.                    Makanan / cairan
·         Berat badan menurun
·         Perut kembung
·         Turgor kulit jelek, kulit kering
d.                   Neurosensori
·         Adanya trauma psikologi pada orang tua
·         Adanya sifat kurang menerima, sensitif
e.                   Nyaman / nyeri
·         Adanya resiko tersedak
·         Disfungsi tuba eustachi
·         Adanya garis jahitan pada daerah mulut
Tabulasi Data
    Sulit mengisap Asi, sulit menelan Asi, bayi rewel,menangis,tidak dapat beristirahat dengan tenang dan nyaman, pucat,turgor kulit jelek, berat badan menurun, perut kembung, kulit kering, adanya trauma psikologi pada orang tua,danya sifat menerima sensitif, adanya resiko tersedak, disfungsi tuba eustachi,adanya garis jahitan pada daerah mulut, adanya sumbing bibir dan sumbing palatum.





Klasifikasi Data
 DS : sulit mengisap Asi, sulit menelan Asi, bayi rewel, menangis, tidak dapat beristirahat dengan tenang dan nyaman.
 DO : pucat, turgor kulit jelek, bert badan menurun, perut kembung, kulit kering, adanya trauma psikologi padaa orang tua, adanya siat kurang menerima, sensitif, adanya esiko tersedak, disfungsi tuba eustachi, adanya garis jahitan pada daerah mulut, adanya sumbing bibir dan sumbing palatum.                                                             9

Analisa Data


No
Symptom
Etiologi
Problem

1
Pre op
DS :  sulit mengisap dan menelan Asi.
DO:  pucat, turgor kulit jelek, kulit kering, perut kembung,BB menurun


Defek fisik
Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
2
DS:   -
DO: adanya trauma psikologi pada orang tua, adanya sifat kurang menerima, sensitif, adanya sumbing pada bibir dan palatum
Bayi dengan defek fisisk yang sangat terlihat
Resiko tinggi perubahan menjadi orang tua
3
DS:  bayi rewel, menangis, tidak dapat beristirahat dengan tenang dan nyaman, sulit mengisao dan menelan Asi.
DO:  adanya garis jahitan pada daerah mulut
Prosedur pembedahan, disfungsi menelan
Resiko tinggi trauma sisi pembedan


4
Post op
DS: bayi rewel,menangis
DO: adanya garis jahitan pada daerah mulut


Insisi bedah
Gangguan
5
DS : -
DO : adanya luka operasi tertutup kasa
Terpaparnya lingkungan dan prosedur invasi
Resti infeksi
             


PRIORITAS MASALAH
Ø  PRE OP    : - Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
-    resti perubahan menjadi orang tua
-                                                                                                                                                resti trauma sisi pembedahan
Ø  POST OP :  -  gangguan rasa nyaman nyeri
                          -  resti infeksi















 DIAGNOSA KEPERAWATAN
Ø  PRE OP
a.       Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d defek fisik yang di tandai dengan :
DS : Sulit mengisap dan menelan Asi
DO : Pucat, turgor kulit jelek, kulit kering,perut kembung, BB menurun
b.      Resiko tinggi perubahan menjadi orang tua b/d bayi dengan defek fisik yang sangat terlihat yang di tandai dengan :
DS : -
DO : Adanya trauma psikologipada orang tua, adanya sifat kurang menerima, sensitif, adanya sumbing pada bibir dan palatum
c.       Resiko tinggi trauma sisi pembedahan b/d prosedur pembedahan, disfungsi menelan, yang di tandai dengan :
DS : Bayi rewel, menangis, tidak dapat beristirahat dengan tenang dan nyaman, sulit mengisap dan menelan Asi.
DO : adanya garis jahitan pada daerah mulut
Ø  POST OP
d.      gangguan rasa nyaman nyeri b/d insisi bedah yang di tandai dengan :
      DS : Bayi rewel, menangis
      DO : Adanya garis jahitan pada daerah mulut
e.       resti infeksi b/d terpaparnya linkungan dan prosedur invasi, yang di tandai dengan :
DS : -
DO : Adanya luka operasi tertutup kasa   





                                                     

No

1

Diagnosa Keperawatan
Rencana Keperawatan
Tujuan
Intervensi
Rasional
Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubah b/d defek fisik yang di tandai :
DS: Sulit mengisap dan   menelan Asi
DO: Pucat, turgor kulit jelek,kulit kering, perut kembung, BB menurun













Setelah mendapatkan tindakan keperawatan di harapkan perubahan nutrisi dapat teratasi dengan kriteria :
·   tidak pucat
·   turgor kulit membaik
·   kulit lembab, perut tidak kembung
·   bayi   menunjukan penambahan berat badan yang tepat.  
   
1. Bantu ibu dalam menyusui, bila ini adalah keinginan ibu. Posisikan dan stabilkan puting susu dengan baik di dalam rongga mulut.
2. Bantu menstimulasi refleks ejeksi Asi secara manual / dengan pompa payudara sebelum menyusui
3. Gunakan alat makan khusus, bila menggunakan alat tanpa puting. (dot, spuit asepto) letakan formula di belakang lidah
4. Melatih ibu untuk memberikan Asi yang baik bagi bayinya
5. Menganjurkan ibu untuk tetap menjaga kebersihan, apabila di pulangkan
6. kolborasi dengan ahli gizi.



1. Membantu ibu dalam memberikan Asi dan posisi puting yang stabil membentuk kerja lidah dalam pemerasan susu.


2. Karena pengisapan di perlukan untuk menstimulasi susu yang pada awalnya mungkin tidak ada


3. Membantu kesulitan makan bayi, mempermudah menelan da mencegah aspirasi




4. Mempermudah dalam pemberian Asi


5. Untuk mencegah terjadinya mikroorganisme yang masuk


6. Untuk mendapatkan nutrisi yang seimbang









11


No

2

Diagnosa Keperawatan
Rencana Keperawatan
Tujuan
Intervensi
Rasional
Cemas / resiko tinggi perubahan menjadi orang tua b/d bayi dengan defek fisik yang sangat terlihat, yang di tandai dengan :
DS : -
DO : Adanya trauma psikologi pada orang tua, adanya sifat kurang menerima, sensitif, adanya sumbing pada bibir dan palatum












Setelah mendapatkan tindakan keperawatan di harapkan resti perubahan menjadi orang tua tidak terjadi dengan kriteria :
·     pasien dan keluarga menunjukan penerimaan terhadap bayi
·     keluarga mendiskusikan perasaan dan kekhawatiran mengenai defek anak, perbaikannyadan proses masa depan
1. Berikan kesempatan untuk mengekspresikan perasaan
2. tunjukan sikap penerimaan terhadap bayi dan keluarga
3. tunjukan dengan perilaku bahwa anak adalah manusia yang berharga
4. gambarkan hasil perbaikan bedah terhadap defek,gunakan foto hasil yang memuaskan
5. anjurkan pertemuan dengan orang tua lain yang mempunyai pengalaman serupa dan dapat menghadapinya dengan baik.
6. menganjurkan orangtua untuk selalu menjaga kesehatan bayinya



1. Mendorong koping keluarga

2. Meredam sikap sensitif orangtua terhadap sikap sensitif orang lain
3.  Mendorong penerimaan terhadap bayi


4.  Untuk mendorong adanya pengharapan



5.  Membantu orangtua mendiskusikan kekhawatirannya, berbagi pengalaman swehingga timbulnya sifat menerima terhadap bayi
6.  Untuk mencegah terjadinya defek pada bayi



No

3

Diagnosa Keperawatan
Rencana Keperawatan
Tujuan
Intervensi
Rasional
Resiko tinggi trauma sisi pembedahan b/d prosedur pembedahan, disfungsi menelan, yang di tandai dengan :
DS : Bayi rewel, menangis,tidak dapat beristirahat dengan tenang dan nyaman, sulit mengisap dan menelan Asi.
DO : adanya garis jahitan pada daerah mulut



Setelah mendapatkan tindakan keperawatan di harapkan trauma sisi pembedahan tidak terjadi dengan kriteria : 
·      bayi tidak rewel dan menangis
·     Bayi dapat beristirahat dengan tenang dan nyaman, dapat menelan Asi denagan baik.

1. Beri posisi leher yang miring atau duduk
2. Pertahankan alat   pelindung bibir. Gunakan teknik pemberian makan nontraumatik.
3. Gunakan paket restrain pada bayi

4. Hindarkan menempatkan objek di dalam mulut setelah perbaikan kateter mengisap. Spatel lidah sedalam dot atau pendek kecil.
5. Jaga agar bayi tidak menangis dengan jelas dan terus menerus
6. Bersihkan garis jahitan dengan perlahan setelah memberi makan dan jika perlu sesuai instruksi dokter
7. Ajar tentang pembersihan dan prosedur restrain khususnya bila bila bayi akan di pulangkan sebelum jahitan di lepas.
1. Mencegah trauma pada sisi operasi
2. Melindungi garis jahitan dan meminimalkan resiko trauma.


3. Mencegahnya agr tidak berulang dan menggaruk wajahnya
4. Mencegah trauma pada sisi operasi




5. Menangis dapat menyebabkan tegangan pada jahitan
6. Mencegah terjadinya infeksi dan inflamasi yang mempengaruhi penyembuhan

7. Meminimalkan terjadinya komplikasi setelah pulang.


No

4

Diagnosa Keperawatan
Rencana Keperawatan
Tujuan
Intervensi
Rasional
gangguan rasa nyaman nyeri b/d insisi bedah yang di tandai dengan :
 DS  :  Bayi rewel dan    menangis
 DO :  Adanya garis jahitan pada daerah mulut

Setelah mendapatkan tindakan keperawatan di harapkan masalah nyeri dapat terkontrol dengan kriteria :  
·      Bayi tidak rewel
·     Tidak menangis
·     Bayi mengalami tingkat kenyamana yang optimal
·     Bayi tampak nyaman dan istirahat dengan tenang.
Observasi
1. Kaji tanda-tanda vital, perhatikan tackikardi dan peningkatan pernapasan.
2. Kaji penyebab ketidaknyamanan yang mungkin selain dari prosedur operasi
3. Kaji skala nyeri, catat lokasi, intensitas nyeri


Mandiri
4. Anjurkan keluarga untuk melakukan  masase
ringan

Penkes
5. Jelaskan orangtua atau keluarga untuk terlibat dalam perawatan bayi
6. Kolaborasi, berikan analgesik / sedatif sesuai instruksi. 



1. Dapat menidentifikasikan rasa sakit akut dan ketidak nyamanan


2. Ketidak nyamanan mungkin di sebabkan oleh adanya proses inflamasi

3. Membantu mengetahui derajat ketidak nyamana dan keefektifan analgesik sehingga memudah dalam memberi tindakan
4. Mengurangi rasa nyeri




5. Memberi rasa aman dan nyaman

6. Analgesik menelan SSP yang memberi respon pada observasi nyeri
















No

5

Diagnosa Keperawatan
Rencana Keperawatan
Tujuan
Intervensi
Rasional
Resti infeksi b/d terpaparnya lingkungan dan prosedur invasi yang di tandai dengan :
DS : -
DO : Adanya luka operasi tertutup kasa

Setelah mendapatkan tindakan keperawatan diharapkan masalah resti infeksi tidak terjadi dengan kriteria :
- luka sembuh dan tidak tertutup kasa  
Observasi
1. Kaji tanda-tanda vital.

2. Kaji tanda-tanda infeksi


Mandiri
3. Jaga area kesterilan luka operasi

4. Lakukan aseptik dan desinfeksidalam perawatan luka
5. Cuci tangan sebelum dan sesudah melakukan tindakan perawatan luka.

Penkes
6. Menjelaskan kepada keluarga untuk menciptakan lingkungan yang bersih dan bebas dari kontaminasi dari luar
7. Menjelaskan kepada keluarga untuk menjaga kebersihan luka

Kolaborasi
8. Kolaborasi dengan medis untuk pemberian obat yang sesuai
    (antibiotik )
  




1. Menentukan intervensi selanjutnya.
2. Membantu tindakan yang tepat


3. Mencegah dan mengurangi transmisi kuman
4. Mencegah kontaminasi patogen

5. Melindungi dari sumber infeksi, mencegah infeksi silang  


6. Mengurangi kontaminasi pasien dari agen infeksius




7. Menjaga kesterilan luka




8. Membantu mencegah infeksi.



                 
2
                                                        BAB III
                                                      PENUTUP                                                                                              
                                                                                   

A.    KESIMPULAN

        Labio palato schisis merupakan kongenital anamali yang berupa adanya kelainan bentuk pada stuktur wajah. Kelainan sumbing selain mengenai bibir juga bisa mengenai langit-langit. Berbeda pada kelainan bibir yang terlihat secara estefik, kelainan sumbing langit-langit lebih berefek kepada fungsi mulut seperti menelan, makan,minum dan bicara. Keadaan ini menyebabkan intake minum / makanan yang masuk menjadi kurang dan jelas berefek terhadap pertumbuhan dan perkembangannya, selanjutnya mudah terkena infeksi saluran nafas atas ksrena terbukanya palatum tidak ada batas antara hidung dan mulut, bahkan infeksi bisa menyebar sampai ke telinga. 

B.     SARAN

1.      Bagi perawat
    Agar dapat memberi ASKEP pada klien labio palato schisis melalui pendekatan proses keperawatan semaksimal mungkin
2.      Bagi masyarakat
    Agar selalu memperhatikan kesehatan diri dan lingkungan apabila di temukan tanda dan gejala labio palati schisis, maka segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat sehingga dapat di obati segera.










DAFTAR PUSTAKA


Mansjoer Arif.2001.Kapita selekta kedokteran,edisi ketiga jilid I.
Jakarta:EGC
Dongoes Marylin.1999.Rencana Asuhan Keperawatan.Jakarta:EGC
WWW.geogle.com













No comments:

Post a Comment