3.NEUROINFEKSI
SEREBRITIS
& ABSES OTAK
ICD G 06.0
DEFINISI/ETIOLOGI
·
Penumpukan
material piogenik yang terlokalisir di dalam/ di antara parenkim otak
·
Etiologi :
-
Bakteri (yang sering) :
staphylococcus aureus, streptococcus anaerob, S. beta hemolitikus, S. Alfa
hemolitikus, E. Coli, bacteroides
-
Jamur : N.asteroids, spesies
candida, aspergillus
-
Parasit
(jarang) : E.Histolitika, cystecircosis, schistosomiasis
Patogenesis
Mikroorganisme
(MO mencapai parenkim otak melalui :
·
Hematogen : dari suatu tempat
infeksi yang jauh
·
Perluasan di sekitar otak :
sinusitis frontalis, otitis media,
·
Trauma
tembus kepala/ operasi otak
·
Komplikasi
dari kardiopulmoner, meningitis piogenik
·
20% kasus tak diketahui sumber
infeksinya
Lokasi :
·
Hematogen paling sering pada
substansia alba dan grisea
·
Perkontinatum;
daerah yang dekat dengan permukaan otak
Sifat :
·
Dapat
soliter atau multiple. Yang multiple sering pada jantung bawan sianotik karena
ada shunt kanan dan kiri.
Tahap-tahap :
·
Awal : reaksi radang yang difus
pada jaringan otak (infiltrate leukosit, edema, perlunakan dan kongesti) kadang
disertai bintik-bintik perdarahan.
·
Beberapa hari-minggu : nekrosis
dan pencairan pada pusat lesi sehingga membentuk rongga abses. Astroglia, fibroblast, makrofag
mengelilingi jaringan yang nekrotik sehingga terbentuk abses yang tidak
terbatas tegas.
·
Tahap lanjut : fibrosis yang
progresif sehingga terbentuk kapsul dengan dinding yang konsentris
Stadium
·
Serebritis dini (hari I-III)
·
Serebritis lanjut (hari IV-IX)
·
Serebritis kapsul dini (hari X-XIII)
·
Serebritis kapsul lanjut (>XIV hari )
KRITERIA
DIAGNOSIS
·
Gambaran kliniknya tidak
khas,criteria terdapat tanda infeksi + TIK khas bila terdapat trias : gejala
infeksi + TIK + tanda neurologik fokal
·
Darah rutin : 50-60 % didapati
leukositosis 10.000-20.000/ cm2
70-95% LED meningkat
·
LP : bila tak ada kontra
indikasi untuk kultur dan tes sensitifitas
·
Radiology :
-
Foto polos kepala biasanya
normal
-
Ct scan kepala tanpa kontras
dan pakai kontras bila abses berdiameter > 10 mm
-
Angiografi
Pemeriksaan
penunjang
·
Darah rutin (leukosit,LED)
·
LP : bila tak ada kontra
indikasi untuk kultur dan tes sensitifitas
·
Rontgen
: foto polos kepala, CT scan kepala tanpa kontras dan pakai kontras atau
negiografi
DIAGNOSIS
BANDING
·
Space occuping lesion lainnya
(metastase tumor, glioblastoma)
·
Meningitis
TATA LAKSANA
Prinsipnya
menghilangkan focus infeksi dan efek massa
Kausal :
·
Ampisilin 2 gr/ 6 jam iv
(200-400 mg/ kgbb/ hari selama 2 minggu)
·
Kloramfenikol
1 gr/ 6 jam iv selama 2 minggu
·
Metronidazole 500 mg/ 8 jam iv
selama 2 minggu
·
Antiedema : dexamethason
/manitol
·
Operasi bila tindakan
konservatif gagal atau abses berdiameter 2 cm
PENYULIT
·
Herniasi
·
Hidrosefalus obstruktif
·
Koma
KONSULTASI
Bedah saraf
TEMPAT PELAYANAN
Perawatan di RS
A atau B
TENAGA STANDAR
Perawat, dokter umum, dokter spesialis saraf
LAMA PERAWATAN
Minimal 6 minggu
PROGNOSIS
Sembuh, sembuh + cacat, atau meninggal
Prognosis : tergantung dari : umur penderita, lokasi abses, dan sifat
absesnya.
MENINGITIS
TUBERKULOSA
ICD A 17.0
DEFINISI
ETIOLOGI
Meningitis
tuberkulosa adalah reaksi peradangan yang mengenai selaput otak yang disebabkan
oleh kuman tuberkulosa.
KRITERIA
DIAGNOSIS
Anamnesis
Didahului oleh
gejala prodromal berupa nyeri kepala, anoreksia, mual/ muntah, demam subfebris,
disertai dengan perubahan tingkah laku dan penurunan kesadaran, onset subakut, riwayat
penderita TB atau adanya focus infeksi sangat mendukung.
Pemeriksaan
fisik
·
Tanda-tanda rangsangan
meningeal berupa kaku kuduk dan tanda lasegue dan kering
·
Kelumpuhan saraf otak dapat
sering dijumpai
Pemeriksaan
penunjang
·
Pemeriksaan
laboratorium : pemeriksaan LCS (bila tidak ada tanda-tanda peninggian tekanan
intracranial), pemeriksaan darah rutin, kimia, elektrolit
Pemeriksaan sputum BTA (+)
·
Pemeriksaan radiologik
-
Foto polos paru
-
CT scan kepala atau MRI dibuat
sebelum dilakukan pungsi lumbal bila dijumpai peninggian tekanan intrakranial
·
Pemeriksaan penunjang lain
-
IgG anti TB (untuk mendapatkan
antigen bakteri diperiksa counter-immunoelectrophoresis, radioimmunoassay atau
tekhnik ELISA)
-
PCR
Pada pemeriksaan
laboratorium :
Pemeriksaan LCS
(bila tidak ada tanda-tanda peninggian tekanan intracranial)
·
Pelikel (+) / Cobweb Appearance
(+)
·
Peliositosis 50-500/mm3, dominan
sel mononuclear, protein meningkat 100-200 mg%, glukosa menurun <50-60% dari
GDS, kadar laktat,kadar asam amino, bakteriologis Ziehl Nielsen (+), kultur BTA
(+).
Pmemeriksaan
penunjang lain seperti IgG anti TB atau PCR
DIAGNOSIS
BANDING
·
Meningoensefalitis karena virus
·
Meningitis bacterial yang pengobatannya
tidak sempurna
·
Meningitis oleh karena infeksi
jamur/ parasit (Cryptoococus neofarmans atau toxoplasma gondii), sarkoid
meningitis
·
Tekanan selaput yang difus oleh
sel ganas, termasuk karsinoma, limfoma, leukemia, glioma, melanoma, dan
medulablastoma.
TATA LAKSANA
·
Umum
·
Terapi kausal : kombinasi obat
anti tuberkulosa (OAT)
-
INH
-
Pyrazinamida
-
Rifampisin
-
Etambutol
·
Kortikosteroid
PENYULIT/KOMPLIKASI
·
Hidrosefalus
·
Kelumpuhan saraf cranial
·
Iskemi dan infark pada otak dan
mielum
·
Epilepsy
·
SIADH
·
Retardasi mental
·
Atrofi nervus optikus
KONSULTASI
Bedah saraf
JENIS PELAYANAN
Rawat inap
TENAGA STANDAR
Dokter spesialis saraf, dokter umum, perawat
LAMA PERAWATAN
Minimal 3
minggu, tergantung respon pengobatan
PROGNOSIS
·
Meningitis tuberculosis sembuh
lambat dan umumnya meninggalkan sekuele neurologist
·
Bervariasi
dari sembuh sempurna, sembuh dengan cacat, meninggal
RABIES
ICD A 82
DEFINISI/ ETIOLOGI :
Rabies adalah penyakit peradangan akut SSP oleh virus rabies, bermanifestasi
sebagai kelainan neurology yang umumnya berakhir dengan kematian.
KRITERIA
DIAGNOSIS
Anamnesis
Penderita mempunyai riwayat tergigit, tercakar atau kontak dengan anjing
kucing, atau binatang lainnya yang :
·
Positif rabies (hasil
pemeriksaan otak hewan tersangka)
·
Mati dalam waktu 10 hari sejak
menggigit (bukan dibunuh)
·
Tak
dapat di observasi setelah menggigit (di bunuh, lari, dsb)
·
Tersangka
rabies ( hewan berubah sifat, malas makan, dll)
Gambaran klinik
·
Stadium prodromal (2-10 hari)
Sakit dan rasa kesemutan disekitar luka gigitan (tanda awal rabies)
Sakit kepala, lemah, anoreksia, demam, rasa takut,
cemas, agitasi
·
Stadium kelainan neurologist
(2-7 hari)
-
Bentuk spastic : peka terhadap
rangsangan ringan, kontraksi oto faring dan esophagus, kejang, aerofobia, hidrofobia,
kaku kuduk, delirium, semikoma, meninggal setelah 3-5 hari
-
Bentuk demensia
-
Kepekaan
terhadap rangsangan bertambah, gila mendadak, dapat melakukan tindakan
kekerasan, koma, mati.
-
Bentuk paralitik
Gejala tidak
khas, penderita meninggal sebelum diagnosis tegak, terdapat monoplegi, atau
paraplegi, flaksid, gejala bulbar, kematian karena kelumpuhan otot napas.
Pemeriksaan
penunjang
·
Pemeriksaan
laboratorium : lekosit, hematokrit, Hb, albumin, urine, dan lekosit urin, likuor
serebrospinal bila perlu.
·
Pemeriksaan
radiologik : dapat dilakukan pemeriksaan CT scan kepala untuk menyingkirkan
kausa lain
·
Pemeriksaan penunjang lain :
tidak ada
Menunjang
diagnosis bila ditemukan :
·
Darah :
-
Lekosit : 8000-13000/ mm3
-
Hematokrit : berkurang
-
Hb : berkurang
·
Urine :
-
Albuminuria
-
Sedikit lekosit
·
CSF : protein dan sel normal atau sedikit meninggi
DIAGNOSIS
BANIDING
·
Intoksikasi obat-obatan
·
Ensefalitis
·
Tetanus
·
Histerikal pseudorabies
·
Poliomyelitis
TERAPI
·
Bila sudah timbul gejala
prodroma prognosis infaust dalam 3 hari
·
Terapi hanya bersifat simptomatis
dan supportif (infuse dextrose, anti kejang)
·
Vaksin anti rabies/ serum
antirabies : tidak diperlukan
PENYULIT
Dehidrasi, gagal
napas
KONSULTASI
Anestesi
JENIS PELAYANAN
Perawatan RS
diperlukan untuk menenangkan pasien
TENAGA STANDAR
Perawat, dokter umum, dokter spesialis saraf
LAMA PERAWATAN
Dirawat di kamar
isolasi 1-10 hari (umumnya penderita meninggal dalam 1-2 hari perawatan)
PROGNOSIS
Infaust/meninggal
dunia
PENATALAKSANAAN
PENDERITA TERGIGIT ANJING ATAU HEWAN TERSANGKA DAN POSITIF RABIES :
KRITERIA
TERSANGKA RABIES SEBAGAI BERIKUT :
- anjing/ hewan yang menggigit terbukti secara laboratorium adalah positif rabies
- anjing/ hewan yang menggigit mati dalam waktu 5-10 hari
- anjing/ hewan yang menggigit menghilang atau terbunuh
- anjing/ hewan yang menggigit dengan gejala rabies
catatan :
- penyuntikan dilakukan secara lengkap bila :
- anjing/ hewan yang menggigit positif rabies
- anjing/ hewan liar/ gila yang tidak dapat diobservasi/ hewan tersebut dibunuh
- penyuntikan VAR tidak dilanjutkan apabila hewan atau anjing yang menggigit penderita tetap sehat selama observasi sampai dengan 10 hari
- petugas (tenaga medis atau perawat) harus memakai sarung tangan, pakaian dan masker
- dokter/ perawat harus terlebih dahulu memberikan penjelasan secukupnya tentang jumlah kali pemberian vaksin anti rabies (VAR)/ serum anti rabies (SAR), termasuk manfaat maupun efek samping yang mungkin timbul
- sebelum dilakukan vaksinasi dengan VAR/ pemberian serum anti rabies (SAR) terhadap penderita terlebih dahulu dimintai persetujuan dari penderita/ keluarga terdekat penderita atas pemberian vaksinasi/ serum tersebut. Dalam hal ini penderita atau keluarga terdekat penderita harus menandatangani surat persetujuan (informed consent) disaksikan oleh 2 orang saksi termasuk dokter/ perawat.
ENSEFALITIS
VIRAL
ICD G 05
DEFINISI/ ETIOLOGI
·
suatu penyakit demam akut
dengan kerusakan jaringan parenkim system saraf pusat yang menimbulkan kejang, kesadaran
menurun, atau tanda-tanda neurologist fokal
·
etiologi :
-
virus DNA
·
Poxviridae : Poxvirus
·
Herpetoviridae : Virus Herpes simpleks, Varisella
Zooster, virus sitomegalik
-
virus RNA
·
Paramiksoviridae : virus parotis, virus morbili(rubeola)
·
Picornaviridae : enterovirus, virus poliomyelitis, echovirus,
·
Rhabdoviridae : virus rabies
·
Togaviridae : virus ensefalitis alpha, flavivirus
ensefalitis jepang B,
virus
demam kuning,virus rubi
·
Bunyaviridae : virus ensefalitis California
·
Arenaviridae : khoriomeningitis limfositaria
·
Retroviridae : virus HIV
KRITERIA
DIGNOSIS
·
Bentuk asimtomatik :
Gejala ringan, kadang ada nyeri kepala ringan/ demam
tanpa diketahui penyebabnya. Diplopia, vertigo, parestesi berlangsung sepintas.
Diagnosis ditegakkan dengan pemeriksaan cairan serebrospinal.
·
Bentuk abortif :
Nyeri kepala, demam yang tidak tinggi,kaku kuduk
ringan. Umumnya terdapat infeksi saluran nafas bagian atas atau
gastrointestinal.
·
Bentuk fulminan :
Berlangsung beberapa jam sampai beberapa hari yang
berakhir dengan kematian. Pada stadium akut demam tinggi, nyeri kepala difus
yang hebat, apatis, kaku kuduk, disorientasi, sangat gelisah dan dalam waktu
singkat masuk ke dalam koma dalam. Kematian biasanya terjadi dalam 2-4 hari
akibat kelainan bulbar atau jantung.
·
Bentuk khas ensefalitis :
Gejala awal nyeri kepala ringan, demam, gejala infeksi
saluran nafas bagian atas/ gastrointestinal selama beberapa hari. Kaku kuduk, tanda
kernig positif, gelisah, lemah, dan sukar tidur. Defisit neurologist yang
timbul tergantung tempat kerusakan. Selanjutnya kesadaran menurun sampai koma, kejang
fokal atau umum, hemiparesis, gangguan koordinasi,kelainan kepribadian, disorientasi,
gangguan bicara, dan gangguan mental.
Pemeriksaan
penunjang :
Pemeriksaan
laboratorium
·
Pungsi lumbal (bila tak ada
kontraindikasi)
-
Cairan
serebrospinal jernih dan tekanannya dapat normal/ meningkat
-
Fase
dini dapat dijumpai peningkatan sel PMN diikuti pleiositosis limfositik, umumnya
kurang dari 1000/ul
-
Glukosa dan klorida normal
-
Protein
normal/ sedikit meninggi (80-200 mg/ dl)
·
Pemeriksaan darah
-
Lekosit : normal atau lekopeni atau
lekositosis ringan
-
Amylase serum sering meningkat
pada parotitis
-
Fungsi hati abnormal dijumpai
pada hepatitis virus dan mononucleosis infeksiosa
-
Pemeriksaan antibody-antigen
spesifik untuk HSV, cytomegalovirus, dan HIV
Pemeriksaan
radiologik
·
Foto torax
·
CT scan
·
MRI
Pemeriksaan
penunjang lain
Bila tersedia
fasilitas virus dapat dibiakkan dari cairan serebrospinal, tinja, urin, apusan
nasofaring, atau darah.
DIAGNOSIS
BANDING
·
Infeksi
bakteri, mikobakteri, jamur, protozoa
·
Meningitis
tuberkulosa, meningitis karena jamur
·
Abses otak
·
Lues serebral
·
Intoksikasi timah hitam
·
Infiltrasi
neoplasma (leukemia, limfoma, karsinoma)
TERAPI
·
Perawatan umum
·
Anti udema serebri :
dexametason dan manitol 20%
·
Atasi
kejang : diazepam 10-20 mg iv perlahan-lahan dapat diulang sampai 3 kali dengan
interval 15-30 menit. Bila masih kejang berikan fenitoin 100-200 mg/ 12 jam/ hari
dilarutkan dalam Nacl dengan kecepatan maksimal 50 mg/ menit
·
Terapi kausal : untuk HSV :
acyclovir
PENYULIT/KOMPLIKASI
·
Deficit neurologist sebagai
gejala sisa
·
Hidrosefalus
·
Gangguan mental
·
Epilepsy
·
SIADH
KONSULTASI
-
JENIS PELAYANAN
Rawat
inap,segera
TENAGA STANDAR
Perawat, dokter umum, dokter spesialis saraf
LAMA PERAWATAN
·
Satu bulan bila tidak ada
sequele neurologist
·
Minimal 1 minggu
PROGNOSIS
Beratnya sequele
tergantung pada virus penyebab
MENINGITIS
BAKTERIAL
ICD G 00
DEFINISI/ETIOLOGI
·
Meningitis bacterial (disebut
juga meningitis piogenik akut atau meningitis purulenta) adalah suatu infeksi
cairan likuor serebrospinalis dengan proses peradangan yang melibatkan
piameter, arakhoid, ruangan subarakhoid dan dapat meluas ke permukaan otak dan
medulla spinalis
·
Etiologi : streptococcus
pneumoniae, neisseria meningitides, H. influenzae, staphylococci, listeria
monocytogenes, basil gram negative
KRITERIA
DIAGNOSIS
Anamnesis
Gejala timbul dalam 24 jam setelah onset, dapat juga subakut antara 1-7
hari. Gejala berupa demam tinggi, menggigil, sakit kepala, fotofobia, mialgia, mual,
muntah, kejang, perubahan status mental sampai penurunan kesadaran.
Pemeriksaan
fisik
·
Tanda-tanda rangsangan
meningeal
·
Papil edema biasanya tampak
beberapa jam setelah onset
·
Gejala neurologist fokal berupa
gangguan saraf kranialis
·
Gejala
lain : infeksi ekstrakranial misalnya sinusitis, otitis media, mastoiditis, pneumonia,
infeksi saluran kemih, arthritis (N. meningitidis)
Pemeriksaan
penunjang
Laboratorium
·
Lumbal pungsi
·
Pemeriksaan likuor
·
Pemeriksaan kultur likuor dan
darah
·
Pemeriksaan darah rutin
·
Pemeriksaan
kimia darah (gula darah, fungsi ginjal, fungsi hati) dan elektrolit darah
Radiologist
·
Foto polos paru
·
CT scan kepala
Pemeriksaan
penunjang lain : pemeriksaan antigen bakteri spesifik seperti C reaktif protein
atau PCR (polymerase chain reaction)
Pemeriksaan
laboratorium diperoleh :
·
Lumbal pungsi : mutlak
dilakukan bila tidak ada kontra indikasi
Pemeriksaan likuor : tekanan meningkat > 180 mmH2O, pleiositosis
lebih dari 1000/ mm3 dapat sampai 10000/ mm3 terutama PMN, protein meningkat
·
Pemeriksaan darah rutin :
lekositosis, LED meningkat
Pemeriksaan
penunjang lain
Bila hasil
analisis likuor serebrospinalis mendukung tetapi pada pengecatan gram negative
maka untuk menentukan bakteri penyebab dapat dipertimbangkan pemeriksaan
antigen bakteri spesifik seperti C Rective Protein atau PCR (Polymerase Chain
Reaction)
DIAGNOSIS
BANDING
Meningitis
virus,perdarahan subarakhoid,meningitis khemikal,meningitis TB,meningitis
leptospira,Meningoensefalitis fungal.
TATA LAKSANA
·
Perawatan umum
·
Kausal : lama pemberian 10-14
hari
Bila bakteri
penyebab tidak dapat diketahui, maka terapi antibiotic empiris sesuai dengan
kelompok umur harus segera dimulai
·
Terapi tambahan : dianjurkan
hanya pada penderita risiko tinggi, penderita dengan status mental sangat
terganggu, edema otak atau TIK meninggi yaitu dengan dexametason 0,15 mg/ kgbb/
6 jam/ IV selama 4 hari dan diberikan 20 menit sebelum pemberian antibiotic
·
Penanganan peningkatan TIK :
-
Meninggikan letak kepala 30˚ dari tempat tidur
-
Cairan hiperosmoler : manitol
atau gliserol
-
Hiperventilasi untuk
mempertahankan Pco2 antara 27-30 mmHg
PENYULIT
·
Gangguan serebrovaskuler
·
Edema otak
·
Hidrosefalus
·
Perdarahan otak
·
Shock sepsis
·
ARDS (adults respiratory
distress syndrome)
·
Disseminated Intravascular
Coagulation
·
Efusi subdural
·
SIADH
KONSULTASI
Konsultasi
dengan bagian lain sesuai sumber infeksi.
JENIS PELAYANAN
Perawatan RS
diperlukan segera
TENAGA STANDAR
Perawat, dokter umum, dokter spesialis saraf
LAMA PERAWATAN
1-2 bulan di
ruang perawatan intermediet
PROGNOSIS
Bervariasi dari sembuh sempurna, sembuh dengan cacat, meninggal.
TETANUS
ICD X : A 35
DEFINISI
Penyakit system
saraf yang perlangsungannya akut dengan karakteristik spasme tonik persisten
dan eksaserbasi singkat.
KRITERIA
DIAGNOSIS
·
Hipertoni dan spasme otot
-
Trismus, risus sardonikus, otot
leher kaku dan nyeri, opistotonus, dinding perut tegang, anggota gerak spastic
-
Lain-lain
: kesukaran menelan, asfiksia dan sianosis, nyeri pada otot-otot di sekitar
luka
·
Kejang tonik dengan kesadaran
tidak terganggu
·
Umumnya
ada luka/ riwayat luka
·
Retensi urin dan hiperpireksia
·
Tetanus local
Pemeriksaan
penunjang
·
Bila
memungkinkan, periksa bakteriologik untuk menemukan C. tetani
·
EKG bila ada tanda-tanda
gangguan jantung
·
Foto toraks bila ada
tanda-tanda komplikasi paru-paru
DIAGNOSIS BANDING
·
Kejang karena hipokalsemia
·
Reaksi distonia
·
Rabies
·
Meningitis
·
Abses
retrofaringeal, abses gigi, subluksasi mandibula
·
Sindrom hiperventilasi/ reaksi
histeri
·
Epilepsy/ kejang tonik-klonik
umum
TATA LAKSANA
·
IVFD dextrose 5% : RL = 1:1/ 6
jam
·
Kausal
-
Antitoksin tetanus :
a. Serum antitetanus (ATS) diberikan dengan
dosis 20000 IU/ hari/ im selama 3-5 hari, tes kulit sebelumnya
-
Antibiotic :
·
Simtomatis dan supportif
-
Diazepam
·
Setelah
masuk rumah sakit, segera diberikan diazepam dengan dosis 10 mg iv perlahan 2-3
menit. Dapat diulangi bila diperlukan.
Dosis maintenance : 10 ampul = 100 mg/ 500 ml
cairan infuse (10-12 mg/ kgbb/ hari) diberikan secara drips (syringe pump)
Untuk mencegah terbentuknya kristalisasi, cairan
dikocok setiap 30 menit.
·
Setian
kejang diberikan bolus diazepam 1 ampul / IV perlahan selama 3-5 menit dapat
diulang setiap 15 menit sampai maksimal 3 kali. Bila tak teratasi segera rawat
di ICU
·
Bila
penderita telah bebas kejang selama ± 48 jam maka dosis diazepam diturunkan
secara bertahap ± 10% setiap 1-3 hari (tergantung keadaan). Segera setelah
intrake peroral memungkinkan maka diazepam diberikan peroral dengan frekuensi
pemberian setiap 3 jam
-
Oksigen
diberikan bila terdapat tanda-tanda hipoksia, distres pernafasan, sianosis
·
Nutrisi
Diberikan TKTP dalam bentuk lunak, saring/ cair. Bila
perlu diberikan melalui pipa nasogastrik
·
Menghindari
tindakan/ perbuatan yang bersifat merangsang, termasuk rangsangan suara dan
cahaya yang intensitasnya bersifat intermiten
·
Mempertahankan/
membebaskan jalan nafas : pengisapan lender oro/ nasofaring secara berkala
·
Posisi/
letak penderita diubah-ubah secara periodic
·
Pemasangan kateter bila terjadi
retensi urin
PENYULIT
·
Asfiksia akibat depresi
pernafasan, spasme jalan nafas
·
Pneumonia aspirasi
·
Kardiomiopati
·
Fraktur kompresi
KONSULTASI
·
Dokter gigi
·
Dokter Ahli Bedah
·
Dokter Ahli Kebidanan dan
kandungan
·
Dokter Ahli THT
·
Dokter Ahli Anestesi
JENIS PELAYANAN
Rawat segera, bila diperlukan rawat di ICU
TENAGA STANDAR
Perawat, dokter umum/ residen, dokter spesialis saraf
LAMA PERAWATAN
2 minggu-1 bulan
PROGNOSIS/LUARAN
·
Angka kematian tinggi bila :
-
Usia tua
-
Masa inkubasi singkat
-
Onset periode yang singkat
-
Demam tinggi
-
Spasme yang tidak cepat diatasi
·
Sebelum KRS : Tetanus Toksoid (TT1) 0,5 ml IM
TT2 dan TT3 : diberikan
masing-masing dengan interval waktu 4-6 minggu
MALARIA SEREBRAL
KRITERIA DIAGNOSIS
Merupakan komplikasi dari malaria. Paling sering disebabkan oleh P. falciparum.
Diagnosis ditegakkan pada penderita malaria (terbukti dari pemeriksaan apus
darah) yang mengalami penurunan kesadaran (GCS <7) disertai gejala lain
gangguan serebral (ensefalopati).
Pemeriksaan
penunjang
Pemeriksaan apus
darah tebal : ditemukan parasit malaria
DIAGNOSIS
BANDING
Penurunan
kesadaran sebab lain :
Hipoglikemi, asidosis,
edema paru, syok hemodinamik, gagal ginjal
KONSULTASI
Bag. Ilmu
Penyakit Dalam
JENIS PELAYANAN
Rawat inap
TENAGA
Perawat, dokter umum, dokter spesialis saraf
LAMA RAWAT
Tergantung
klinis
PROGNOSIS
Sequele jangka
panjang : ataksia, buta kortikal, kejang, hemiparesis
SINUS
TROMFOFEBLITIS
KRITERIA
DIAGNOSIS
Definisi :
adalah infeksi sinus venosus intracranial yang disebabkan berbagai bacteria. Biasanya berasal dari penjalaran infeksi
sekitar wajah atas (furunkel) dan kepala (luka, mastoiditis, dll). Gejala
tergantung sinus venosus mana yang terkena. Pada trombosis sinus cavernosus, bisa
didapat oftalmoplegi dan khemosis. Pada sinus sagitalis trombosis bisa didapat
paraplegi.
Pemeriksaan
penunjang
Darah rutin :
gambaran infeksi umum dan leukositosis
Pemeriksaan
penunjang lain : cari sumber infeksi wajah atau kepala
DIAGNOSIS
BANDING
Pseudotumor
serebri
TATALAKSANA
Terapi farmaka :
antibiotika seperti meningitis purulenta
KOMPLIKASI/PENYULIT
Meningitis
purulenta
Abses otak
KONSULTASI
-
JENIS PELAYANAN
Rawat inap
TENAGA
Perawat, dokter umum, dokter spesialis saraf
PROGNOSIS
Tergantung
stadium pengobatan
MENINGITIS
KRIPTOKKOKKUS/JAMUR
KRITERIA
DIAGNOSIS
Definsi : adalah
meningitis yang disebabkan oleh jamur kriptokkokus.
Diagnosis pasti
: pemeriksaan sediaan langsung dan kultur dari CSS
Predisposisi : gangguan imunitas berat (AIDS, penerima transplantasi
jaringan atau sedang dalam terapi keganasan)
Pemeriksaan
penunjang
·
Pungsi lumbal : -Profil LCS
menyerupai MTB
-
Pengecatan tinta India/ gram terhadap CSS
·
Pemeriksaan serologis
·
Kultur sabauraud
DIAGNOSIS
BANDING
Meningitis
serosa sebab lain
TATALAKSANA
·
Terapi kausal : amfoterisin B
dan 5 floro sitosin iv (2 minggu) dilanjutkan flukonazol 200 mg.hari
·
Terapi
simtomatik/ suportif : disesuaikan keadan pasien
PENYULIT
Herniasi
KONSULTASI
Atas indikasi ke
Bag Ilmu Penyakit Dalam & Bag bedah saraf
JENIS PELAYANAN
Rawat inap di
ruang perawatan khusus
TENAGA
Perawat, dokter umum, dokter spesialis saraf
PROGNOSIS
Buruk
Nama Penyakit/ Diagnosis
HIV AIDS SUSUNAN
SARAF PUSAT
DEFINISI/ETIOLOGI
Definisi WHO
untuk AIDS di Asia Tenggara adalah pasien yang memenuhi criteria A dan B
dibawah ini.
A.
Hasil positif untuk antibody
HIV dari dua kali tes yang menggunakan dua antigen yang berbeda
B.
Salah satu dari criteria yang
dibawah ini :
1. berat badan menurun 10% atau lebih yang
tidak diketahui sebabnya, diare kronik selama 2 bulan terus menerus/ periodic
2.
tuberculosis milier atau
menyebar
3.
kandidiasis esophagus yang
dapat didiagnosis dengan adanya kandidiasis mulut yang disrertai disfagia/ odinofagia
4.
gangguan neurologist disertai
gangguan aktivitas sehari-hari yang tidak diketahui sebabnya
5.
sarcoma Kaposi
Infeksi HIV akan
menimbulkan penyakit yang kronik dari progresif sehingga setelah bertahun-tahun
tampaknya mengancam jiwa. Pengobatan yang tersedia sekarang dapat memperpanjang
masa hidup dan kualitas hidup dengan cara memperlambat penuruna system imun dan
mencegah infeksi oportunistik. Terdapat variasi yang luas dari respon imun
terhadap efek patologik HIV. Karena itu mungkin saja sebagian dari mereka tetap
hidup dan sehat dalam jangka panjang sedangkan sekitar 40-50% dari mereka
menjadi AIDS dalam waktu 10 tahun.
·
Etiologi : virus RNA
(Retrovirus)
Patofisiologi
infeksi HIV
HIV dapat ditularkan melalui hubungan seksual dan non seksual. Didalam
tubuh HIV akan menginfeksi sel yang
mempunyai reseptor CD4 seperti sel limfosit, monosit dan makrofag dan beberapa
sel tertentu lain.walaupun tidak mempunyai reseptor CD4 misalnya sel-sel glia
dan sel langerhans. Secara umum ada dua kelas sel dimana HIV ber-replikasi
yaitu didalam sel T limfosit dan didalam sel makrofag, karena itu disebut T
tropic atau syncytium inducing isolates dan makrofag tropic atau non syncytium
inducing isolates. Isolat M tropic lebih sering tertular, tetapi isolate T
tropic terlihat pada 50% dari infeksi HIV stadium lanjut dan menimbulkan
progresivitas penyakit yang sangat cepat. Bahkan diketahui bahwa yang
menimbulkan perbedaan tropisme adalah kadar ko reseptor yang penting yaitu
CXCR4 dan CCR5.
Sebagai
akibatnya akan terjadi dua kelompok gejala utama yaitu :
1.
akibat penekanan pada system
kekebalan tubuh sehingga mudah terjadi infeksi, kanyeri kepalaer yang spesifik
dan penurunan berat badan yang drastis
2.
disfungsi neurologik baik
susunan saraf pusat maupun susunan saraf perifer
KRITERIA
DIAGNOSIS
·
fase I - infeksi HIV primer (infeksi HIV akut)
·
fase II - penurunan imunitas dini (sel CD4 >500/ ul)
·
fase
III - penurunan imunitas
sedang (sel CD4 500-200/ ul)
·
fase
IV - penurunan imunitas
berat (sel CD4 <200/ ul)
Kriteria
diagnosis presumtif untuk indicator AIDS :
a.
kandidiasis esophagus : nyeri
restrosternal saat menelan dan bercak putih diatas dasar kemerahan
b.
retinitis virus sitomegalo
c.
mikobakteriosis
d.
sarcoma Kaposi : bercak merah
atau ungu pada kulit atau selaput mukosa
e.
pneumonia pnemosistis karini :
riwayat sesak nafas/ batuk nonproduktif dalam 3 bulan terakhir
f.
toksoplasmosis otak
Pemeriksaan
penunjang
·
enzim-linked imunosorbent assay
(ELIZA) dan aglutinasi partikel
·
western blot analysis, indirect
immunofluorescence assays (IFA) dan radioimmunoprecipitation assays (RIPA)
·
biakan darah
·
antigen/ antibody HIV
·
lymphosit cell CD4 dan CD8
·
viral load
·
serologi sifilis, antigen
kriptokkokus
·
lumbal pungsi
·
pemeriksaan tinta India cairan
serebrospinal
·
brain CT scan, MRI
·
electromyography (EMG)
·
memory test
·
rongen torax
·
mikroskopis dan biakan dahak
DIAGNOSIS
BANDING
·
masa intracranial
·
TBC
·
Polineuropathy karena penyebab
lain
·
Demensia karena penyebab lain
TATALAKSANA
Dosis anti
retroviral untuk ODHA dewasa (pedoman nasional 2004)
Gol /nama obat Dosis
Nucleoside RTI
Abacavir (ABC) 300 mg setiap 12 jam
Didanoside (DDL) 400 mg sekali sehari
250 mg@12 jam (BB <60 kg)
Atau 250 mg sekali sehari bila
Diberi bersama TDF
Lamivudine (3TC) 150 mg setiap 12
jam atau
300
mg sekali sehari
Stavudine (d4T) 30 mg@12 jam
(BB <60 kg)
Zidovudine (ZDV atau AZT) 300 mg@12 jam
Nucleotide RTI
Tenovovir (TDF) 300 mg sekali
sehari
Non-nucleoside RTIs
Efavirenz (EFV) 600
mg sekali sehari
Nevirapine (NVP) 200 mg sekali
sehari (14 hari)
Kemudian
200 mg @12 jam
Protease Inhibitors
Indinavir/ritonavir (IDV/r) 800mg/100mg@12 jam
Lopinavir/ritonavir (LPV/r) 400 mg/100 mg @12 jam
Nelfinavir (NFV) 1250 mg@12 jam
Squinavir /ritonavir (SQV/r) 1000mg/100mg@12 jam atau
1600mg/200mg
sekali sehari
Ritonavir (RTV/r) capsule 100mg,
Larutan oral 400mg/5 ml
Infeksi
opportunistic
1.
Sitomegalovirus pada HIV : pada
funduskopi = retinitis sitomegalovirus gansiklovir 5 mg/ kgbb 2x sehari
parenteral selama 14-21 hari.
Selanjutnya 5 mg/ kgbb 1x sehari dianjurkan sampai CD4 lebih dari
100 sel/ ml
2.
ensefalitis toksoplasma
primetamin 50-75 mg/ hari dengan sulfadiazine 100
mg/ kgbb/ hari
asam folat 10-20 mg/ hari
atau :
fansidar 2-3 tablet/ hari dan klindamisin 4x600
mg/ hari disertai leukovorin 10 mg/ hari
(fansidar mengandung : pirimetamine 25 mg + sulfadoksin 500 mg)
Untuk mencegah kekambuhan : kotrimokzazol 2 tab/ hari)
3.
meningitis cryptoccocus
terapi primer fase akut : amfoterisin B 0,7 mg/ kgbb/
hari iv-2 minggu
selanjutnya fluconazole 400 mg/ hari/ oral selama
8-10 minggu
terapi pencegahan kekambuhan :
fluconazole 100 mg/ hari seterusnya selama jumlah sel CD4 masih
dibawah 300 sel/ ml
(Flow chart sesuai grafik gambar dibelakang)
Antiretroviral
rekomendasi WHO 2004
·
d4T/3TC/NVP
(Stavudin/ Lamivudin/ Nevirapin)
·
d4T/3TC/EFV
(Stavudin/ Lamivudin/ Efavirens)
·
AZT/3TC/NVP
(Zidovudin/ Lamivudin/ Nevirapin)
·
AZT
/3TC/ EFV (Zidovudin/ Lamivudin/ Efavirens)
PENYULIT/KOMPLIKASI
1.
drug toxicity
2.
AIDP
3.
CIDP
4.
mononeuropathy
5.
focal barin lesions
6.
distal symmetric polineuropathy
7.
inflammatory demyelinating
8.
progressive polyradiculopathy
9.
mononeuritis multiplex
10.
spinal cord syndrome/ vacuolar
myelopathy
Pokja HIV-AIDS
RS setempat, VCT clinic
JENIS PELAYANAN
Rawat inap dan
rawat jalan
TENAGA STANDAR
Spesialis saraf,
spesialis penyakit dalam, perawat terlatih
PROGNOSIS
Angka kekambuhan
tinggi
Angka kematian
tinggi
Gambar 1 :
Alagoritme penatalaksanaan keluhan intraserebral pada penderita HIV/AIDS
Keluhan
Intaserebral
Ct scan
![]() |
Terapi sesuai observasi

How to create an account with this casino? - TricktoAction
ReplyDeleteDo you 파워 볼 사이트 샤오 미 use a 넷마블 도메인 card from a non-numeric card. You want 스마일 토토 to win 파워 볼 사이트 real 스포츠 토토 경기 및 일정 결과 벳피스트 놀검소 money on this casino with it.